Shop Mobile More Submit  Join Login
About Digital Art / Professional Member jonathan chanutomoMale/Indonesia Groups :iconlove-is-genuine: Love-is-genuine
Love can be shown on every art
Recent Activity
Deviant for 7 Years
Needs Premium Membership
Statistics 418 Deviations 15,486 Comments 59,359 Pageviews

Newest Deviations

Random Favourites

Activity


Novita Tanjaya and Her Family by JonathanChanutomo
Novita Tanjaya and Her Family
Family Portrait Commission
if you need something like this, just send me private message, or email me at: jehonathan89@yahoo.co.id
Loading...
Chapter 03.
Saat Berusia 45 tahun, dan Tidak Pernah ke Mana-mana
Malam ini adalah salah satu malam di antara malam-malam yang biasa saja bagi Prudence Ucello. Seorang guru berusia 45 tahun yang separuh hidupnya dipakai untuk memberi bimbingan konseling di SMA St. Dominic Savio. Setelah kematian ayahnya, Prudence hidup berdua dengan ibunya di apartemen berukuran sedang yang nyaman. Ibunya sudah tidur sejak jam 9 tadi. Tidur awal, bangun lebih awal, aku harus bangun pagi agar tidurku tidak kebablasan, kalau kau tahu apa maksudku. Gurau ibunya suatu ketika. Prudence berpikir saat orang-orang semakin tua, mereka akan semakin akrab dengan kematian, mempersiapkan diri sebaik mungkin, dan tidak lagi menganggapnya menakutkan. Gurauan ibunya yang berusia 72 tahun hanyalah salah satu contohnya. Prudence ingat ia tertawa saat mendengarnya, walau terbersit sedikit rasa sedih. Ibunya yang dulu cantik dan muda sekarang sudah tua, bahkan sudah menjadi janda. Ayahnya yang dulu tampan dan kuat, menjadi tua, mengalami stroke, kemudian mati tanpa mengucapkan apapun kepadanya.
Prudence baru selesai mandi dengan air hangat. handuk membungkus rambutnya yang basah. Masker di wajahnya terasa lembap. Dia duduk malas di atas sofa empuk berbahan corduroy. Tangan kirinya memegang gelas berisi brandy dan es batu, sambil bersandar di lengan sofa. Minum sedikit-sedikit, menikmati rasa manis dan keras yang membuat tubuh dan pikirannya terasa  lebihrelaks. Masih tersisa separuh cairan berwarna keemasan dalam botol kaca di atas meja. Tangan kanannya memijit-mijit remote contol, mencari-cari tayangan bagus di TV kabel. Melodrama dan sinetron percintaan semua, membuatnya muak. Sudah 5 tahunan ini dia berhenti menonton film-film cheesy semacam itu. Prudence berhenti di sebuah channel yang memutar tentang acara jalan-jalan keliling dunia. Kali ini di Bangkok. Prudence sudah melihat tayangan ulang itu 2 kali, dia sudah hampir hafal dengan beberapa istilah berbahasa Thailand yang disebut beberapa kali dan nama-nama makanannya yang aneh, juga salad telur semut. Menjijikkan. Tapi masih kalah menjijikkan dengan melihat kebodohan  Rose yang demi cinta, kembali melompat ke Titanic yang hampir karam hanya, untuk mengakhirinya dengan melihat kematian Jack.  
Prudence selalu ingin pergi berlibur ke Thailand. Bangkok, Phi-phi, Phuket, Chiang Mai. Dia belum pernah ke sana. Prudence belum pernah ke mana-mana. Dia lahir dan tinggal di Cherubino, dulu keadaan ekonomi keluarganya cukup mengenaskan, sehingga saat teman-temannya pergi berwisata ke luar negri, dia harus puas hanya dengan mendengar cerita dan membayangakan megahnya istana Versailles, eksotisnya Bali, serunya dikejar-kejar banteng di Pamplona. Namun dia ingat, hatinya cukup terhibur, saat ayahnya berusaha melipur kesedihan tertahan Prudence, yang tidak mampu membayar biaya karyawisata pelepasan teman-teman SMPnya ke  Port St. Anna, sebuah resort di daerah pantai utara Serafina.  Ayahnya mengajak Prudence jalan-jalan, berdua saja ke Serafina.  Ngebut dengan mobil butut, tertawa-tawa  saat beberapa mobil mewah mengklakson dan menyalip mereka. Di bawah lampu-lampu jalanan kuning di atas jembatan yang menghubungkan Cherubino dengan Serafina. Mereka makan malam di deli yang mahal,  berdansa tango, main ding-dong, menjadikan kesenangan-kesenangan itu rahasia kecil mereka berdua. Karena kalau sampai ibunya yang agak puritan dan saudara-saudaranya yang sering saling iri tahu, mereka bisa marah. Bukan hanya kalian yang ingin makan enak! Kalau punya uang lebih lebih baik ditabung, jangan diboroskan untuk memanjakan anakmu! Masih banyak yang perlu diperbaiki di rumah ini!  Prudence selalu menjadi kesayangan ayahnya, dan ayahnyalah yang paling dia disayangi di rumah mereka. Waktu itu dan selamanya. Prudence memandang foto ayahnya yang tersenyum di atas televisi, di antara miniatur bebek mandarin dari keramik. Aku selalu merindukanmu papa, aku selalu rindu jadi putri kecilmu lagi…    
Saat beranjak dewasa, dia sering membayangakan berbulan madu di pantai-pantai eksotis seperti Phuket, Bali, Hawaii, atau Malta. 2 kali dia membayangkan ke tempat-tempat itu dengan 2 lelaki yang dipacarinya selama 3 dan 7 tahun. 2 kali dia merencanakan pernikahan, bahkan sudah membayangakan tempat pesta dan gaun macam apa yang akan dikenakannya. 2 kali rencana pernikahannya gagal. Yang satu karena ibu Marco, lelaki lemah itu, entah kenapa tidak menyukai Prudence dalam segala hal, dan Marco tidak bisa melakukan apapun selain menuruti kemauan ibunya. Mereka bercinta habis-habisan di suatu malam, kemudian Marco mengucapkan selamat tinggal untuk selamanya di pagi berikutnya.  Rencana pernikahan berikutnya batal, karena Antoni, lelaki pengecut itu, tiba-tiba mencampakkannya, menghilang, menarik diri begitu saja setelah suatu acara makan malam. 7 tahun pacaran, dan semua itu tidak ada artinya. Hilang seperti asap. Prudence sudah berusia 39 tahun saat itu, ayahnya yang mendesak mereka untuk segera menikah sudah meninggal 2 tahun sebelumnya. Kekecewaan membuatnya mengambil keputusan untuk  tidak berpikir tentang pernikahan lagi. Belakangan dia tahu Antoni sudah menikah dengan anak bosnya, wanita yang jauh lebih kaya dari dirinya, yang mampu mengangkat status sosial dan ekonominya. Pernikahan itu terjadi tidak lama setelah Antoni mencampakkan Prudence, dan sekarang mereka mempunyai 2 orang anak. Tidak ada lelaki yang  sebaik ayahnya sendiri.
Dinding di atas televisi memajang foto-foto keluarganya. Foto keluarga yang diambil 8 tahun lalu, besar dan mendominasi dinding. Foto keluarga terakhir bersama ayahnya, dipotret hanya beberapa bulan sebelum dia terkena serangan stroke, koma, dan tak pernah sadar lagi. Untunglah Antoni menolak saat dia diajak ikut berfoto.
“tidak-tidak, belum waktunya, aku belum menjadi suami Pru”.
Dan ayahnya menjawab, “kalau begitu segeralah menjadi suaminya, suami sahnya!” Antoni hanya tersenyum kecut, tidak membalas lagi, hanya melihat dari samping fotografer saat kami sekeluarga difoto bersama.
“Usiaku sudah tidak muda lagi anak muda, begitu juga usiamu dan Pru, aku sungguh ingin melihat anak kesayanganku menjadi pengantin… menimang cucu yang dilahirkannya”. Dulu  ia begitu mendamba, setengah memaksa Antoni yang berteguh tidak akan ikut dalam foto keluarga itu. Namun ssetelah semuanya lewat,  Prudence berpikir bahwa semua itu jauh lebih baik, karena jika waktu itu Antoni ikut berfoto bersama, bagaimana cara mengeluarkan lelaki brengsek itu dari foto ini? pasti merepotkan.
Toh ayahnya juga sudah mati sebelum peristiwa yang menyakitkan hati itu terjadi. Waktu itu Prudence merasa semuanya akan lebih baik jika ayahnya yang bijaksana ada di sampingnya, namun di lain sisi ia bersyukur, ayah yang penuh kasih itu tidak perlu menyaksikan kehancurannya yang menyedihkan dan hatinya yang perlahan membeku. Gadis manisnya beralih menjadi wanita paruh baya yang penuh kepahitan. Mungkin memang Prudence tidak memiliki kesempatan untuk mengenakan gaun pengantin. Mungkin memang itulah yang akan kupilih.Tidak sama sekali.
Di samping foto keluarga yang besar itu, tergantung foto pernikahan orang tuanya,  yang pernah sangat mengintimidasinya, ketika dia masih bersama Antoni. Foto dirinya saat masih bayi digendong oleh ibunya. Foto lain menunjukkan dia digendong oleh ayahnya. Foto  adik-adiknya. Foto masa kecilnya, memegang balon dan teddy bear. Foto masa remajanya, saat ia masih berusia 17 tahun, dengan rambut keriting megar. Bukankah dia termasuk cantik? Foto itu diambil lebih dari 25 tahun yang lalu. Foto wisudanya, Ayahnya mencium pipinya di foto itu. foto wisuda adik-adiknya. Foto pernikahan adik laki-lakinya, Justin dengan Winnie, foto pernikahan adik perempuannya, Leona dengan Jeremy. Keponakan-keponakannya. Bayi-bayi mungil yang sekarang beranjak dewasa.  Seperti grafik, di dinding itu terlihat jelas bahwa usianya terus bertambah, dia semakin tua, dan kecantikannya terus berkurang. Ia sudah tidak mengharapkan pernikahan, tapi menghadapi usia tua, seperti melihat ibunya yang semakin keriput dan lemah… degenerasi itu mengecilkan hatinya. Membuatnya semakin pahit.
Mata Prudence tertaut pada foto terbaru di dinding itu baru dipasang minggu lalu. Foto dirinya, dikelilingi keponakan-keponakannya. 2 orang lelaki, 3 orang perempuan. Wajahnya di foto berbeda dengan  wajah perempuan lajang 45 tahun yang memandang balik kepadanya dari balik cermin. Usia tidak mencuri kecantikannya secara drastis, namun perlahan-lahan, hampir tidak terasa. Kemudian, tiba-tiba saja, ia bangun dari mimpi, secara dramatis menemukan kerut halus telah menggurat di seputar mata dan dahinya, garis senyumnya yang semakin dalam. Kulitnya pucat dan kendor, dengan flek-flek yang mulai bermunculan. Lengan dan perutnya yang dulu kencang sekarang lembek, menggelambir, berat badannya bertambah, pantantnya juga sudah turun, dengan gurat-gurat selulit di permukaan kulitnya yang pernah mulus.
Kecantikan masa mudanya yang tidak luar biasa memang masih tersisa, apalagi jika diperkuat dengan make-up cukup tebal, seperti yang digunakannya untuk mengambil  foto itu. Make-up membuatnya tampak 10 tahun lebih muda, tapi sampai kapan dia bisa mempertahankannya? Pulasan kosmetik dan tata cahaya memang dapat membuatnya tampak lebih muda, tapi bukankah make-up itu hampir sama palsunya dengan senyum ‘bahagia’ di tengah pelukan anak-anak yang bukan anak-anaknya. Ada waktu untuk menghapus make-up, dan menghadapi kenyataan, bahwa manifestasi masa muda yang dia pertahankan ini hampir sia-sia. Dia bahkan tidak terlalu memahami manfaat masker dan berbagai macam krim yang dia pakai untuk meremajakan kulitnya. Setiap malam dia memakai semua itu, tapi kerut-kerut itu masih ada di sana. Tapi diapun khawatir, jika menghentikan penggunaanya, kerut-kerut itu akan timbul semakin nyata. Tidak ada salahnya mencoba.
Masa muda yang singkat, masa muda yang sudah habis, sekarang dia sudah disebut ‘paruh baya’ dan akan segera memasuki masa tua yang kekal. Ya, masa tua itu kekal, orang muda bisa didandani menjadi orang tua, tapi orang tua tidak bisa didandani menjadi anak muda. Kulit yang mulus bisa berubah jadi keriput seiring berlalunya waktu, tapi di usia 70 atau 80 tahun, keriput-keriput yang bertambah sudah tidak akan ada lagi artinya, seperti ia lihat sendiri terjadi pada ibunya. Tua adalah tua. Kehilangan segala kemolekan fisik yang pernah ada, dulu dia tidak pernah menggunakan masker, krim, ataupun make-up. Dulu Prudence jarang memikirkan tentang hal-hal semacam itu, tapi belakangan godaan untuk membayangakan seperti apa dia akan melalui masa tua semakin sering menghantuinya. Mungkin istilah ‘menghantui’ terlalu berlebihan, Prudence masih belum setua atau sepanik itu.  
Bibir berlapis lipstik merah muda yang tersenyum itu membuatnya tampak sangat bersukacita, berkumpul di antara keponakan-keponakan, anak-anak yang tidak pernah dimilikinya. Yang seolah-olah dia sayangi dan menyayanginya. Dia tidak sebahagia itu, berkumpul di antara wajah-wajah belia dan kulit-kulit kencang yang masih memiliki jalan panjang di hadapan mereka. Wajah-wajah muda yang sedang tersenyum, dulupun Prudence semuda mereka. Terkadang timbul rasa iri kepada mereka, generasi muda yang jauh lebih beruntung daripada generasinya. Anak-anak yang hidup berlebihan, tidak seperti dirinya dulu yang harus serba berhemat agar tidak hidup dalam kekurangan. Senyum bahagia itu palsu kan? Aku tidak sebahagia itu kan? Bahkan sesungguhnya aku tidak menyayangi mereka… mereka semua sangat asing bagiku. Aku tidak pernah sungguh-sungguh mengenal mereka. Mereka menghindariku, akupun tidak berusaha mencari mereka… aku justru merasa jauh lebih nyaman begitu.
Maskernya telah mengering, dikelupasnya, dan hendak dibuangnya ke tempat sampah. Berdiri, berjalan dengan langkah yang ringan. Brandy ini membuatnya serasa terbang. Kakinya melangkah ke tempat sampah di bawah foto yang sedang diamatinya sedari tadi. Dia telah membuang maskernya, tapi tidak beralih. Dia menenggak brandynya sampai habis, kemudian memandang lekat-lekat ke foto itu. Kelak saat aku mati,apakah semua yangtelah susah payah kukumpulkan akan menjadi milik mereka? Anak-anak orang lain, anak-anak yang tidak bisa kupahami, sekalipun beberapa kali aku membujuk mereka untuk terbuka kepadaku… aku adalah seorang guru bimbingan konseling. Prudence memandangi kelima wajah keponakannya satu persatu.

Charles yang paling tua, berusia 19 tahun,  anak adik bungsunya, Leona yang menikah karena  hamil duluan. Ibunya tidak terlalu mempermasalahkan hal itu. Leona memang cantik, dan suaminya, Jeremy, adalah anak keluarga kaya. Charles merangkul pundaknya. Dia telah dikeluarkan dari SMA St. Dominic dua tahun lalu. Masih lekat di ingatan Prudence, bagaimana pemberontaknya anak itu, persis dengan adiknya yang manja. Berbagai pelanggaran, mungkin bahkan sampai taraf penghujatan. Charles sengaja datang terlambat ke sekolah, saat jam istirahat pertama, kancing kemeja terbuka, memamerkan tattoo tengkorak berlilitkan ular di dadanya, dengan ruam kemerahan yang menandakan bahwa tatoo itu masih baru. Charles menaikkan kakinya ke atas meja, merokok di dalam kelas, dan mengepulkan asap kepada guru yang menegurnya. Dia tahu Ms. Doyle menderita asma.
Charles mengumpulkan massa, anak-anak berandal lainnya, datang malam-malam ke sekolah, mengendap-endap, dan membuat grafitti gambar penis yang besar sekali di dinding luar kapel sekolah, merentang melalui pintu di antara patung malaikat penjaga dan patung santo Dominic. Kedua patung itupun ‘dikerjai’. Gambar tubuh wanita telanjang di atas jubah sang malaikat, sehingga dari depan malaikat itu seperti wanita yang mengenakan gaun tipis. Tambahan gips yang dibentuk sedemikian rupa ditempelkan pada daerah selangkangan santo Dominic, sehingga ia seolah-olah sedang mengalami ereksi yang sangat besar. Beberapa majalah pria dewasa di selipkan di antara lengannya yang memegang bunga bakung. Dahinya diukiri ‘faggot’ , sampai sekarang jika diperhatikan baik-baik,tulisan ‘faggot’ berbentuk kaligrafi itu masih dapat terbaca di balik dempulan marmernya. Walaupun bisa dibilang sebagai karya seni yang bagus, Prudence tetap memarahinya habis-habisan dan tidak mau berusaha melindungi keponakannya itu,  sekalipun Leona datang, menampar Charles, dan memohon agar sang guru bimbingan konseling melakukan sesuatu.  Prudence tidak melakukan apapun selain mendukung komite sekolah mengeluarkan anak bermasalah tersebut. Charles pindah ke SMA lain dengan membawa kebanggan dari perbuatan anarkisnya, memajang ‘karyanya’ di facebook, dipuja sekaligus dihujat.
Prudence dan Charles sama sekali tidak berkomunikasi selama 2 tahun belakangan ini. Tapi dalam reuni keluarga bulan lalu, saat foto itu diambil, Sikap Charles biasa saja, lebih ramah malahan. Penampilannya pun lebih rapi, tampan. Dia dan Leona tidak mengungkit-ungkit masalah itu, Prudence juga tidak. Charles mengatakan bahwa dia sudah lulus dan melanjutkan kuliahnya di bidang seni murni, Prudence tahu itu.Di foto itu, Charles merangkul bahunya, bahkan sebelum berpisah, Charles mengecup kedua pipi Prudence. Sudah lama sekali dirinya tidak disentuh oleh seorang lelaki. Wajah Prudence memerah. Anak itu akan tumbuh jadi pria tampan yang sangat brengsek.
Setelah selesai merenungi Charles, matanya memandang Alicia, anak sulung adiknya yang lain, Justin. Alicia berusia 16 tahun, rambutnya diwarna ombre jingga dan pink. Saat ini dia juga bersekolah di SMA St. Dominic. Nilai akademisnya buruk, Prudence tahu sesungguhnya ia tidak bodoh, hanya malas belajar, anak bodoh itu tidak ada. Sepanjang hari dia hanya mendengarkan musik, memakai headset di dalam kelas, mengangguk-anggukan kepala seirama musik. Saat dia dipanggil ke ruang bimbingan konseling, perilakunya tidak berubah, tetap menggunakkan headset dan mengangguk-angguk. Alicia mengetatkan seragam sekolah, juga memendekkan rok yang sudah dibuat cukup pendek dan fashionable. Alicia adalah seorang penari hip-hop, dia tergabung dalam ekstrakurikuler dance, yang dipikirkannya hanya tentang musik dan tarian, bahkan dia berkata: “aku ingin jadi penari, bukan jadi profesor, kenapa aku harus menyusahkan otakku dengan semua ini?!”
Beberapa bulan yang lalu Prudence terpaksa memberinya skors 3 hari, dan melaporkan hal ini pada Justin, karena Alicia kedapatan berciuman di rumah tanaman laboratorium biologi. Alicia masih belum mau berbicara lagi dengan Prudence karena masalah itu, bahkan di foto itu dia tampak sangat menjaga jarak, berdiri, hampir tanpa ekspresi, tangannya di letakkan di atas tangan Charles. Tanpa tangan itu, Alicia akan betul-betul tidak memiliki kesatuan dengan orang-orang lain di dalam potret tersebut. Alicia hampir tidak tersenyum sama sekali. Padahal saat dia masih kecil aku merasa dia sangat mirip denganku… dia pernah menjadi kesayanganku, karena sejak awal aku memang lebih menyayangi Justin daripada Leona… sekarang bukan hanya dia yang jijik padaku, akupun jijik padanya.
Kemudian Prudence memandang gadis yang berlutut dan menyandarkan lengan di atas pangkuannya. Estella, adik Charles, yang berusia 17 tahun. Dia juga bersekolah di SMA St. Dominic. Gadis yang ramah dan cantik, terlalu cantik malah. Walaupun tidak bertanya, dan tidak diberitahu, Prudence tahu Estella telah beberapa kali melakukan bedah kecantikan, seperti juga Leona. Hidungnya yang mungil dan lurus bukanlah khas genetik keluarga mereka. Dia tahu hidung Estella waktu masih SMP tidak seperti itu. Hidungnya adalah yang paling menonjol, tapi jika diperhatikan baik-baik, mata Estella sekarang lebih lebar, tulang pipinya lebih tinggi, bibirnya lebih sensual. Setiap kali masuk sekolah setelah liburan panjang, tentu saja dia masih bisa dikenali sebagai Estella, tapi dia menjadi cantik dan semakin cantik dadanya semakin besar, pantatnya semakin naik. Seperti foto model majalah pria dewasa.
Pada suatu kali kelas bimbingan konseling, Prudence mengangkat topik tentang body dismporphic disorder yang membuahkan kecanduan operasi plastik, dia menunjukkan foto-foto korban operasi plastik yang gagal, dan berusaha mengedukasi mereka tentang penerimaan diri apa adanya. Beberapa siswa memandang sembunyi-sembunyi ke arah Estella, tapi mereka tidak berani berkomentar apapun, mereka semua takut kepada Anarchiein. Anak lelaki tinggi besar itu adalah pacar Estella, dan di mata Prudence, berpotensi jadi penggencet, walau sejauh ini masih belum ada laporan kasus penggencetan yang dilakukan olehnya, hanya beberapa perkelahian dengan anak lain yang juga bertubuh besar. Semua orang sangat segan kepada Anarchiein. Sekalipun anak itu ceria dan banyak tertawa, tidak banyak yang sungguh dekat dengannya.
Sehari setelah kelas bimbingan konesling itu, dari dalam kotak saran siswa, Prudence menemukan selembar kertas berisi foto close up wajahnya, sebelah menyebelah. Dengan tulisan besar-besar: Operasi plastik yang berhasil: sebelum dan sesudah. Yang sebelum adalah foto asli dirinya yang setengah tua, yang sesudah adalah hasil ‘operasi plastik’ instan yang dilakukan dengan photoshop. Segala kerutan hilang, wajahnya jadi muda lagi. Hidungnya lebih mancung, bibirnya penuh. Bahkan rambutnya juga diedit, jadi modis dan bervolume.  Prudence jadi tampak seperti idola anak muda. Di bawah gambar itu ada tulisan: dengan bedah kosmetik, andapun bisa jadi cantik! Diakhiri dengan tanda hati.
Setiap kali mengingat kejadian itu, wajahnya terasa panas. Foto itu sudah dirobeknya tanpa sepengetahuan rekan-rekannya yang lain, memalukan! Memuakkan!  Wajah muda dan cantik itu terus menghantui dirinya. Dia tahu itu benar, tapi dia tidak pernah membayangakan dirinya akan terbaring di sebuah klinik kecantikkan dan melakukan bedah plastik. Hatinya, gengsinya tidak akan mengizinkan hal itu terjadi. Jika ayahnya masih hidup, tentu ia akan sedih sekali jika tahu anak gadis kesayangannya melakukan hal semacam itu. Kadang Prudence merasa putus asa. Dia tahu pasti usia tua itu ada, dia membenci hal itu,  tapi dia tidak benar-benar dapat melakukan apapun selain berpasrah, menunggu, dan melihat, sejauh mana waktu akan membiarkan kecantikan yang tersisa itu tinggal. Menyesal dan merasa iri. Senyuman  penuh kepalsuan, seperti wajahmu, dadamu, bokongmu… kamu bermanja-manja kepadaku, tapi di hatimu kamu mencaci maki aku, kamu dan pacarmu, dan teman-teman pacarmu… aku tidak tahu otentisitas apa yang masih tersisa di balik kecantikanmu yang palsu. Pikiran itu muncul lagi, seperti saat mereka berangkulan, saling mencium pipi dan tertawa-tawa bersama. Tangan mereka saling bergandengan waktu itu. Senyummu sama palsunya dengan senyumku. Tapi kadang memang kepalsuan itu di perlukan… kita hidup dalam masyarakat, bukan di belantara. Kita menyebutnya tata krama.Estella adalah yang paling dibenci oleh Prudence dari semua keponakannya.
Kemudian Prudence memandang Marion, adik Alicia yag dirangkul dengan tangan kirinya. Marion berusia 14 tahun, dan tidak tinggal di Cherubino. Dia diadopsi oleh kakak istri Justin yang kaya dan tidak mempunyai anak. Marion baru saja diberi tahu bahwa ‘Paman Justin’ dan ‘bibi Winnie’ adalah orang tua kandungnya. Reuni bulan lalu adalah reuni pertamanya bersama keluarga Ucello. Prudence merasa sangat asing saat bertemu dengan Marion, tentu saja. Dia tidak tahu banyak tentang gadis itu, selain rambut coklatnya yang tebal, dan mata biru yang mirip matanya sendiri. Prudence baru pertemu Marion 3 kali, dan pada pertemuan ketiga itulah foto ini dibuat. Sesuai tata krama, mereka berpelukan dan saling mencium pipi, tanpa arti. Ia masih ingat betapa canggung rasanya merangkul anak perempuan pendiam yang hampir tidak dikenalnya tersebut.
Sekarang Marion sudah kembali bersama keluarganya, keluarga yang dikenalnya sejak kecil, bukan keluarga yang selama ini hanya dikenalnya sebagai ‘paman dan bibi’. Membesarkan anak orang lain? tidakkah akan jauh lebih mengecewakan saat mereka beranjak remaja dan melakukan pemberontakan-pemberontakan paling menyebalkan yang dapat mereka pikirkan?  jika anak kandungmu yang melakukannya, kamu akan selalu punya hati untuk memaafkan mereka, karena darah mereka adalah darahmu… tapi jika itu adalah anak orang lain… jika mereka mengecewakanmu, tidakkah kamu akan berpikir bahwa anak itu hanyalah seonggok sampah tidak tahu terima kasih? Tidak sekalipun Prudence ingin mengadopsi seorang  anak, sebagai persiapan untuk merawatnya saat dia sudah tua nanti.
Ia sedih saat melihat degenerasi yang dialami ibunya. Ia sedih, jika mengingat bahwa suatu saat nanti jika ibunya sakit keras, tanggung jawab untuk merawat akan jatuh ke tangannya. Melihat ibunya yang dulu kuat akan semakin kehilangan daya dan harus diperlakukan seperti bayi. Pikiran yang pahit dan menyedihkan. Ia sedih akan masa mudanya yang seolah-olah terlewat begitu saja. Seandainya ia dibesarkan dalam keluarga yang lebih beruntung, seandainya dia bisa bertukar posisi dengan Estella atau Marion, atau bahkan Alicia (Walau keluarga Justin tidak kaya seperti Leona, ia dapat memberikan hidup yang jauh layak kepada Alicia, bahkan menyekolahkannya di St. Dominic yang mahal, jauh lebih baik, dibandingkan yang mampu dilakukan oleh ayah mereka). Jika Prudence memiliki segala kesempatan untuk itu, dia tentu akan menjadi anak yang paling dibanggakan oleh oreng tuanya. Yang paling sukses dan dikagumi diantara anak-anak sebayanya.dia tidak akan berakhir menjadi seorang guru bimbingan konseling berhati pahit yang tidak menikah dan tidak pernah ke mana-mana. Bahkan terkadang Prudence berpikir, hidup ini adalah miliknya, ia belum memutuskan apakah ia akan menjadi tua atau tidak.  Semuanya, tergantung keputusanku sendiri.apa yang bisa kulakukan sekarang?
Akhirnya mata Prudence memandang keponakannya yang paling kecil, James. Anak bungsu Justin, usianya 9 tahun dan sangat nakal. Dalam foto itu, ia sedang berjongkok di samping kaki Prudence. tangan kanannya menggenggam jemari Estella, tangan kirinya membentuk ‘victory’. Dia tampak tertawa lepas. James mengalami gangguan ADHD , yang membuatnya jadi hiperaktif. Tapi menurut Justin, kata dokter mereka tidak perlu terlalu khawatir, karena seiring bertambahnya usia, dengan dukungan terapi dan obat-obatan yang tepat, anak itu akan jadi lebih tenang. Tapi Justin tidak pernah tenang, selalu bergerak ke sana kemari, semakin tahun semakin menjadi-jadi. Anak kecil menyebalkan, dia memecahkan salah satu keramik bebek mandarin itu, hadiah ulang tahun ke 20 Prudence dari ayahnya. Sehingga hiasan yang seharusnya adalah satu keluarga bebek mandarin di atas televisi, yang mengelilingi foto ayahnya, menjadi keluarga single parent.
Ayah bebeknya telah pecah, mati seperti ayahnya sendiri. Betapa marahnya Prudence ketika itu terjadi. Dia menampar anak itu, ibunya segera melerai dan menyalahkan Prudence, harusnya Prudence mengerti kondisi keponakannya itum apalagi dia adalah seorang konselor pendidikan. Prudence memandang anak itu. Dulu Charles juga pernah memecahkan hiasan keramiknya yang lain, tapi Prudence memeluk dan memaafkannya… dan kini Charles jadi manusia semacam itu. Prudence sebetulnya tidak mempercayai kekerasan, sebagai seorang konselor pendidikan dia tahu kekerasan itu salah, bukan jawaban. Tapi di sisi lain dia melihat betapa nakalnya James, jauh lebih nakal dibandingkan Charles dulu. Jika Charles yang dulu tidak senakal itu saja…
Malam itu, setelah James dipaksa meminta maaf dan pulang, Prudence bertengkar dengan ibunya. Dia selalu memiliki bayangan bahwa James kelak akan menjadi lebih parah dibandingkan Charles, lebih brutal, lebih anarkis. Ibunya mengatakan bahwa Prudence terlalu berlebihan, berpikir terlalu jauh. “tidak sejauh itu ma, mama tidak tahu, pendidikan yang salah… apalagi kalau anaknya sendiri sudah memiliki kelainan…”
“Prudence!”
“James memiliki kelaian, itu faktanya! dia tidak boleh dibiarkan seenaknya sendiri, dia harus tahu bahwa setiap perbuatan yang dilakukannya akan memiliki akibat, tidak hanya bagi orang lain, tapi juga bagi dirinya sendiri! Dia harus tahu apa itu jera!” Prudence berlalu ke kamarnya sambil menangis, membawa pecahan keramik yang hampir dibuang oleh ibunya itu.
“Katamu, manusia selalu memiliki kesempatan untuk berubah! Katamu semua tergantung lingkungannya!” Seru ibunya dari luar kamar.
“ada hal-hal dalam kehidupan yang tidak bisa dirubah oleh apapun ma! Mama harus tahu itu!” Prudence berusaha merekatkannya keramik bebek mandarin itu lagi, menempel bagian pecah yang satu denganbagian pecah yang lain, tapi hasilnya jelek. Dia tidak bisa konsentrasi, dari luar ibunya berseru bahwa ia adalah wanita dewasa, sudah bukan waktunya lagi untuk bersikap seperti anak kecil. Menangis karena barangnya dirusak anak kecil lain. Prudence terus terisak mendengarnya sambil memandangi Keramik rusak tersebut. Dia tidak sampai hati untuk membuangnya, namun dia sudah tidak mau melihatnya lagi. Ini berbeda! ini bukan sekedar mainan, ini… papa… ini….
“Anak itu bukan anakku!, tidak satupun cucumu yang adalah anakku! Mereka tidak berhak masuk begitu saja ke hidupku, lalu mengobrak-abriknya, hanya karena aku adalah bibi mereka!” jerit Prudence menanggapi omelan ibunya. Prudence mendengar pintu yang dibanting keras sekali.
“Aku tidak memiliki tanggung jawab apapun atas mereka” bisiknya sambil menangis. Matanya terus terpaku pada bebek yang pecah itu. jika ia tidak menyingkirkannya, benda ini akan selalu membuatnya ingat, bahwa bagaimanapun ia rindu kepada ayahnya, bagaimanapun dia berusaha mengumpulkan dan menyatukan kenangan-kenangan indah yang pernah mereka miliki, ayahnya tidak akan pernah kembali. Ayahnya sudah mati. Malam itu, perasaan kehilangan itu semakin dipertegas dengan pecahnya sang ayah bebek. Prudence tahu apa yang harus dilakukannya.
Prudence membuka sebuah laci yang tersembunyi di balik laci lain, yang hanya berukuran separuh laci normal, disanalah dia akan mengubur sang ayah bebek, bersama benda-benda lain yang akan selalu mengingatkan dia kepada sakit hatinya selama bertahun-tahun, tapi tidak pernah bisa dia buang. Seperti kapsul waktu, benda-benda dari masa lampau yang penuh dengan kenangan pahit. Saputangan berinisial ‘P & P’,  hadiah dari sahabat asa SMP nya, Patricia, yang waktu SMA ‘mengkhianatinya’ dengan berkencan dengan Paul, lelaki berandalan yang disukai oleh Prudence, terlepas dari fakta bahwa lelaki itu sama sekali bukan pacarnya, bahkan tidak pernah tahu bahwa ada seorang gadis bernama Prudence yang jatuh hati kepadanya. Serangkaian foto bersama  Marco dan Antoni. Rekaman suara Marco yang romantis menyanyikan ‘dear Prudence’. Anting-anting kristal pemberian Antoni, yang konon diwariskan dari ibunya.  Kalung mutiara yang dia ambil saat masih kecil dari kotak perhiasan neneknya, neneknya kebingungan mencari perhiasan kesayangan yang dimilikinya sejak muda tersebut, dan tidak pernah menemukan benda itu, sampai hari kematiannya tiba. Benda-benda dari masa lalu, yang dimasukkannya ke dalam ‘peti mati-peti mati’ mungil dari carboard box dan kaleng-kaleng persegi.
Benda-benda yang jika dilihat lagi akan memberi efek seperti silet yang menyayat luka baru di atas luka lamanya yang telah sembuh. Tepat di atas bekas lukanya. Dalam perkuburan kecil itu pulalah Prudence mengubur ‘koleksi’ kenikmatan penuh rasa bersalah yang berusaha dia lupakan, tapi tidak pernah ia lupakan. Dia tahu benda-benda itu ada di sana. Di kotak yang mana, di kaleng yang mana. Foto telanjang dada dirinya waktu masih muda, foto-foto bulu pubis gadis-gadis mabuk yang membuang celana dalamnya di sebuah pesta lajang. Foto-foto nakal yang diambilnya secara iseng-iseng, dan dicetak oleh temannya  yang memiliki usaha cuci cetak foto. Sekotak kondom beraneka rasa yang ditinggalkan oleh Antoni di kamarnya. Foto telanjang dada Charles di kolam renang, dengan tattoo tengkorak berlilit ular di depan jantungnya. Charles yang tampan, nakal dan mempesona. Grafitti Charles dengan Charles berdiri di antara kedua patung itu, foto ukuran 8R yang penuh kebanggan seorang pemberontak itu pernah jadi bukti untuk mengeluarkan Charles dari sekolah. Foto anak-anak lelaki telanjang. Charles saat berusia 7 tahun, Justin saat berusia 8 tahun. Bebek itu diletakkan dalam peti mati dari kaleng biskuit. Dipandanginya ‘tanah perkuburan’ itu. sejenak matanya tertumbuk pada ‘peti mati’ bertuliskan ‘Hermes’. Dia ingat foto teratas di dalam peti mati itu adalah foto telanjang dada dirinya, sedang ‘menyusui’ James yang berusia 4 tahun. foto yang diambil tidak lama setelah Antoni mencampakkannya. Ada beberapa foto lain di bawahnya sangat personal. James yang berusia 5 tahun, telanjang dan ereksi, Prudence yang telanjang dada berciuman dengan James, membiarkan James meraba-raba buah dadanya. Prudence memandang kotak itu sambil berpikir, bahwa kelak James akan menyaingi Charles. Lebih brutal, lebih nakal, lebih tampan, lebih mempesona, lebih seksi dari Charles.
Prudence mengunci laci itu, menempatkan laci depan yang menyembunyikannya. Dia menyembunyikan kunci perkuburan itu di bagian paling belakang dan bawah laci celana dalamnya. Pikirannya terpaut pada kotak bertuliskan Hermes tersebut. Aku tidak merusaknya, sudah dari awal dia ‘rusak’…
Kenangan itu muncul lagi. Dia tahu di mana kuncinya, dan kotak mana yang berisi kenangan pahit atau kenikmatan-kenikmatan penuh dosa yang mana. Aku tidak merusaknya, aku tidak melakukan apapun pada anak itu… dari awal dia memang sudah tidak beres. Diperhatikannya tangan James menggandeng tangan Estella, sepupu kesayangannya, yang selalu menuruti segala permintaan James. Suatu hari  mereka akan tidur bersama. Estella akan memperparah kerusakan James. Prudence semakin membenci Estella yang menyayangi James. James yang nakal dan memuakkan. James yang suatu saat nanti akan jadi lebih brutal, lebih anarkis, lebih tampan, lebih mempesona, lebih seksi dari Charles.

Prudence menarik jari jemarinya yang basah berlendir. Ia mendesah, menikmati orgasme yang sedang melandanya. Dulu Justin, kemudian Charles, dan sudah berapa lama ini dia membayangkan James. Wajah-wajah di dinding itu melebur jadi gumpalan-gumpalan warna-warni. Prudence mengerjap-ngerjapkan matanya. Tidak seorangpun dari mereka layak menikmati uang yang telah dikumpulkannya dengan memberi konseling dan penghiburan kepada ribuan siswa selama bertahun-tahun. Anak lelaki pemberontak sok berjiwa seniman, anak perempuan malas yang hanya bisa menari, anak perempuan munafik penuh kepalsuan, anak perempuan yang tidak pernah dikenalnya, anak lelaki hiperaktif yang akan jadi lebih brengsek dari anak lelaki lainnya. Semua adalah anak-anak yang tidak pernah dimilikinya, anak-anak yang tidak pernah memilikinya, tidak dicintai ataupun mencintainya. Mereka sesungguhnya adalah sekumpulan orang asing yang diikatkan kepadanya oleh tali yang disebut ‘keluarga’. Persetan sekalipun darahnya juga mengalir dalam darah mereka.
Botol brandy kosong, gelas kaca kosong tergeletak di atas karpet. 2 potong es batu teronggok di dalamnya, tidak lama lagi akan mencair dan membasahi karpet coklat muda itu. Aku menolak untuk jadi tua… aku tidak akan jadi lebih tua lagi, berkeriput dan menyedihkan seperti mama… tidak, aku menolak semua itu. Aku sudah cukup tua, dan sekaranglah waktunya menikmati hidup… menjual segala milikku dan bersenang-senang, ke manapun aku mau, aku bisa pergi lebih jauh dari Port. St. Anna sekarang… sudah berkali-kali aku ke sana… aku layak mendapatkannya, aku layak mendapatkan kesenangan terakhir untuk memahkotai hidupku yang selama ini hambar… pahit… merayakan kehidupanku… merayakan kematianku… aku tidak akan bertambah tua lagi… tidak…
Dan tidak akan ada yang kutinggalkan untuk mereka… tidak ada surat wasiat, tidak ada warisan… mama masih punya Leona, mama masih punya Justin… sedangkan aku, yang kupunyai hanya papa… dan papa… papa… sebelum bertemu papa… aku akan bersenang-senang, jauh lebih senang dibanding kesenangan apapun yang pernah kurasakan sebelumnya…
Persetan dengan yang lain… persetan dengan semua anak bandel yang tidak akan pernah bisa diluruskan itu… biar waktu melakukan tugasnya…
Prudence sudah hampir terlelap. Kepalanya terkulai di lengan sofa. Rambut coklatnya menjuntai sampai menyentuh handuk yang tergeletak di atas karpet, menutupi gelas brandy dan separuh botolnya. Waktu menunjukkan pukul 12.15 saat ponselnya berbunyi. Telpon penting yang seharusnya dia angkat. Tapi tidak ada perjanjian, dia tidak berjanji pada siapapun bahwa dia akan mengangkat panggilan yang masuk pada pukul 12.15. Prudence sudah setengah bermimpi tentang Vienna dan apple struddle, saat ia melepas batrenya, dan menghentikan semua panggilan yang mencarinya. Kemudian ia terlelap, setelah orgasme yang biasa-biasa saja, seperti yang biasa dia alami, di atas sofa corduroy, di depan televisi, disaksikan oleh sekian banyak wajah tersenyum anggota keluarganya yang tergantung di dinding.  
Bukan urusanku… tidak lama lagi aku juga akan selesai berurusan dengan dunia yang menjemukan ini…
Chapter 02.
Dalam Suatu Perjalanan Cahaya
Malam ini hanyalah satu dari banyak malam yang menyenangkan bagi Isaac. Kebahagiaan, atau setidaknya hal-hal yang disebutnya kebahagiaan bukanlah hal yang susah dijangkau bagi pemuda sekaya dirinya. Pukul 10 malam, masih sangat ‘pagi’ bagi rang-orang semacam dirinya. Porsche emas melaju di jembatan layang  yang menghubungkan Cherubino,  pulau kecil di mana ia tinggal dalam sebuah rumah mewah yang besar, dengan Serafina, kota metropolitan yang menyediakan setiap detail kebutuhan bagi gaya hidupnya yang mahal. Gedung-gedung pencakar langit dan berbagai gedung lain gemerlapan di metropolis yang tidak pernah tidur. Cahaya perkotaan terefleksi di atas selat yang memisahkan Cherubino dan Serafina. Music player memutar ‘Yellow’ milik Coldplay. Salah satu lagu favorit Isaac, walaupun lirik lagu itu terdengar sangat gombal. Ia merasa lagu ini sangat pas untuk menemaninya saat melakukan ‘perjalanan cahaya’ –ngebut di bawah lampu jalanan, terang seperti siang, sampai seperti terbang-  seperti ini.   Dalam kecepatan 200 km/jam, mobilnya terasa melayang, terlepas dari dimensi ruang dan waktu, terbang dalam garis-garis cahaya. Deretan lampu kuning terang  yang menggantung merentang di antara tiang-tiang jembatan. Biasan cahaya menerpa wajah gadis cantik yang duduk manis di sampingnya. Kecantikan yang tidak biasa.
Look at the star, look how they shine for you
Gadis itu adalah taklukan terbarunya, walau peristiwa penaklukannya sendiri sudah agak lama, tapi masih belum juga terasa menjemukan. Ia terbang dari Barcelona 3 bulan yang lalu untuk menghabiskan liburan musim panas di rumah masa kecilnya, bersama nenek dan saudara sepupunya  yang tidak populer dan sekelas dengan Isaac. Pukul 12 malam nanti, dia akan tepat berusia 22 tahun, 4 tahun lebih tua dari Isaac. Tapi siapa yang peduli?
Isaac tidak peduli apapun tentang gadis ini, selain kecantikannya yang tidak biasa. Keanehan alam yang menawan. Keterpesonaan yang tak kunjung membosankan. 2 bulan sekian minggu yang lalu,di Psyche, bar bergaya bohemia favoritnya. Saat Yellow mengalun, pandangan Isaac tertumbuk pada sosok seorang gadis yang belum pernah dilihatnya di sudut Cherubino yang manapun. Pulau ini begitu kecil, dan tidak mungkin gadis itu tidak populer.
And all the things that you do
Pandangannya tak bisa berhenti menyeledik gadis berambut coklat kemasan itu,  rambut dengan model bergulung-gulung,  klasik, seperti wanita- wanita di masa perang dunia ke-2, seperti gadis-gadis di video porno vintage yang dipinjamkan oleh Aniki beberapa waktu yang lalu. Isaac senang dengan segala sesuatu yang beraroma klasik, vintage, kuno. Beradab dan jauh lebih classy dibandingkan zaman tempatnya hidup saat ini.  Torsonya rapat di atas meja billiard, kedua tangannya memegang tongkat penyodok. Alih-alih membidik, matanya justru mengamati garis rahang gadis itu yang kokoh, dan tulang pipinya tinggi. Seraut wajah bergaris tegas, namun terkesan lembut dengan hidung  mungil yang mancung, dan sepasang mata biru lebar berkelopak ganda. Tanpa fokus, Isaac menyodok bola, sekenanya, asal gilirannya segera lewat. Ini bukan waktunya main billiard. Bola putih tersebut meleset, tak mengenai satu bolapun, dari sekian banyak yang tersebar di atas permukaan hijau meja billiard. persetan.Isaac beranjak, mengoper tongkat penyodoknya pada Gio. Seolah tersihir, matanya tidak bisa lepas memandangi gadis itu, mulutnya yang lebar, bibirnya yang sensual berlipstik merah. Dia sadar sedang dipandangi. Oh dia sendirian! Gadis itu menenggak birnya, beberapa tetes mengalir di dagu dan turun ke lehernya, mengalir masuk ke belahan dadanya. Jantung Isaac berdesir. Gadis itu tersenyum, sederet gigi putihnya berjajar rapi, lengkap dengan lesung pipit yang dalam di kedua pipinya. Cantik luar biasa!
Yeah, they were all yellow
Isaac menghampirinya. Dia cantik luar biasa memang, namun sesungguhnya dia bukan tipe favorit Isaac, kulit pucat susunya dan dihiasi freckle, sekalipun tidak terlalu gelap, tapi dari dekat dapat terlihat jelas, bintik-bintik merah muda membentang di sekitar pipi dan hidungnya.
“Aurellia” gadis itu tersenyum lalu tertawa, terbahak-bahak, bahagia, karena dia tahu akhirnya dia menemukan teman. Isaac ,mengamati bintik-bintik merah muda itu, alur penyebarannya, di dagu dan dahi, juga leher, lengan, punggung, dan payudaranya. Di perut, pantat, paha, sampai ke betis dan kakinya. Isaac tersenyum dan menghisap selinting ganja yang entah bagaimana sudah menempel di bibirnya. Jari-jari lentik Aurellia memegangi lintingan tersebut. Isaac menghembuskan asap berbentuk cincin. “Isaac” jawabnya sambil tersenyum manis.
Your skin, oh yeah your skin and bones…
Turn into something beautiful
Aurellia menjadi teman kencan pertama Isaac yang memiliki kulit berbintik-bintik, sesungguhnya Isaac tidak pernah mimpi akan berkencan dengan gadis yang memiliki jutaan bintik merah muda seperti itu di sekujur tubuhnya. Dulu ia menganggap bintik-bintik itu  aneh, menjijikkan, dan tampak bodoh.  Semacam cacat permanen… seperti tinta yang bocor di atas kertas cetakan. Dia ingat pernah meledek teman SD nya yang berkulit pucat dan berbintik-bintik coklat muda dengan julukan ‘muka stroberi’. Tapi Nancy berbeda dengan Aurellia. Nancy adalah anak SD culun yng belum menstruasi. Dia tidak memiliki payudara dan bokong untuk menyokong wajah sederhananya yang selalu menunjukkan ekspresi tolol. Entah di mana gadis kurang beruntung itu sekarang, Isaac segera menghapus bayangan tentang muka stroberi tersebut, di depannya kini  hanya ada Aurellia, dan wajahnya sungguh-sungguh tidak seperti stroberi. Mereka berbicara, minum-minum, bercanda, tertawa, mabuk, teler, lalu bercumbu. Tangannya menyapu jutaan bintik merah muda di sekujur tubuh mulus putih susu.
Do you know? you know I love you so…
Bukankah justru itu menambah daya tarik seksualnya? Isaac menatap penuh kekaguman pada wajah berbintik-bintik Aurellia, seperti ketika ia pertama kali meraba buah dada gadis itu, dan melahap putingnya yang dikelilingi bercak-bercak erotis tersebut. Sampai hari ini sudah berapa kali kami bercinta? Bercinta? Ah, cinta tai kucing, tentu saja maksudku bermain seks!
“Do you know I LUST  you so…”
Aurellia bukan pacar Isaac, tentu saja. Ada segelintir gadis yang pernah berkolaborasi dengannya dalam suatu eksperimen yang ia sebut ‘pacaran’. Serangkaian percobaan dan pencobaan yang membawa Isaac tiba pada suatu kesimpulan bahwa dia masih terlalu muda untuk sungguh-sungguh mengikatkan dirinya pada komitmen semacam itu. Banyak yang terkejut, bahwa dalam  kehedonisnya yang amoral, Isaac masih mempunyai sebuah prinsip yang tidak tergoyahkan. Ia tidak akan memacari gadis-gadis yang mau dipakai sebelum mereka sungguh-sungguh menjadi sepasang kekasih. Kencan itu beda sama pacaran, aku nggak akan memacari  lonte. Walaupun terkadang untuk memakai gadis-gadis tersebut, dia harus berpura-pura menjadi ‘pacar’ gadis itu. Tapi itu masalah yang berbeda… aku hanya berlaku seolah-olah aku adalah ‘pacar’ bagi gadis-gadis bodoh itu, tanpa pernah sekalipun menyatakan bahwa mereka adalah pacarku, atau aku pacar mereka…itu hanya persepsi tolol mereka…
… dan Aurellia, diapun lain lagi.
Lagipula, Aurellia sudah terikat dalam komitmen yang masih dihindari oleh Isaac tersebut. Di Barcelona, dia memiliki seorang tunangan yang seingat Isaac bernama Domingo atau Domenico, namun disebut ‘Donkey’ oleh Isaac, karena menurutnya… atau memang sesungguhnya lelaki itu bodoh kaya keledai. Isaac tidak pernah bertemu Domingo atau Domenico alias Donkey, dia hanya mengetahui lelaki ini dari foto-fotonya di facebook (in a relationship with Aurellia Katherine), dan langsung merasa terintimidasi oleh posturnya yang gagah, tampak tinggi dan kekar di foto (Aurellia mengamini, Donkey memang tinggi dan kekar di dunia nyata), dengan rambut brunette sebahu yang bergelombang, kulit kecoklatan, dada bidang, otot bisep dan lengan yang tampak begitu jantan. Sederet gigi putih menghiasi senyumannya yang menawan. Dia adalah figur sempurna seorang ‘pria seksi’. Secara fisik, ia tampak seperti salah satu dewa Olympus, jika dibandingakn dengan Isaac yang bertubuh mungil, berwajah kekanak-kanakan, dan berkulit pucat. Donkey baik, tampan, dan setia. “Manifestasi suami idaman semua wanita”, kata Aurellia.
Donkey berusia 28 tahun, mapan dan siap menikah, hanya tinggal menunggu kelulusan Aurellia dari kuliah arsitekturnya. Donkey, Pria yang membuat begitu banyak perempuan iri kepadanya. Pria yang sangat ia cintai, atau dia pikir dia cintai, dengan caranya sendiri. Sejauh ini… beginilah aku mencintainya. Cincin safir tanda pertunangannya selalu melingkar di jari manis Aurellia. “jangan lupa, kualitas utamanya adalah ia ‘takut akan Tuhan’” kata Aurellia sambil tersenyum.  
Pria yang tampan dan baik hati, pria yang bodoh dan malang, yang takut akan Tuhan,  yang untuk kesekian kalinya percaya pada kebohongan-kebohongan Aurellia. Kadang dibutuhkan tipuan-tipuan kecil untuk mempertahankan keharmonisan suatu pasangan… tentu saja… selama tidak ada yang tersakiti… merasa tersakiti…
Begitu jujur, begitu tulus, begitu santun, begitu lembek, begitu tidak menantang bagi hasrat petualang dalam jiwa Aurellia yang muda dan bergelora. Gairah yang panas dan meletup-letup. Pria yang taat dan selalu mematuhi anjuran ibunya, “dengar baik-baik Donkey, cinta itu adalah memberikan dirimu, kepada pasanganmu demi cinta akan Tuhan, bukan meminta tubuhnya untuk memuaskan kedaginganmu! Lebih baik mati seribu kali daripada berbuat dosa satu kali!” Aurellia menirukan khotbah religius dan berapi-api calon mertuanya itu, seorang pewarta firman yang karismatik. “Lebih baik kamu cium mama setiap pagi, daripada meniduri wanita jalang itu satu kali!” Isaac menambahkan.  Tidak ada yang terkejut dengan fakta Donkey masih perjaka, dan menganggap masturbasi adalah dosa.
Aurellia sangat terlatih dalam menggunakan lidahnya, dalam konteks ini: berdusta. Tidak ada yang salah, tidak akan ada yang merasa tersakiti… aku dapat mengatasi semuanya, ya, aku bisa… Ia mengaku sedang makan malam bersama nenek dan Azaleia – sepupunya yang tidak populer itu-, saat Donkey meneleponnya suatu malam, padahal sesungguhnya ia sedang di atas lantai dansa Psyche, bersama Isaac dan teman-temannya. Sekali dua kali muncul dalam benak Aurellia, bahwa Donkeypun bisa melakukan hal yang sama kepada dirinya. Tapi dia terlalu alim untuk itu… Domenico… ahahaha dia begitu mencintaiku… mana mungkin. Aurellia akan tertawa terbahak-bahak dalam hati saat mengingat betapa bodohnya ia sampai dapat berpikir sejauh itu. Walau dia sepenuhnya sadar, mereka memandang cinta dari sudut pandang yang berbeda. Tolstoy  mengatakan ada berbagai macam bentuk cinta, beginilah caraku mencintainya… ia tidak akan pernah merasa tersakiti. Kemudian ia menggunakan lidahnya yang terlatih itu untuk berdansa di dalam rongga mulut Isaac setelah SMS nya terkirim.
Pria itu begitu spiritual dan ‘rajin menghadiri perkumpulan-perkumpulan ibadah’. Dalam laman facebooknya, Isaac mengetahui betapa taatnya pria itu. berbaris-baris status dan posting komentar di grup-grup religius. Isaac agak kagum saat menyadari Donkey, dalam argumen-argumen tersebut, begitu memahami agama Katolik yang dianutnya. Nostra Aetate, Dei Verbum, Extra Ecllesiam Nulla Salus, Pater Noster Qui es in caelis… Tampaknya ia mampu berbahasa latin, sehingga tanpa sadar, poin intelektualitasnya meningkat pesat di dalam batin Isaac, yang karena pengaruh dari calon kakak iparnya, Leah, merasa bahwa bahasa latin adalah ‘bahasa orang-orang beradab’.
Begitu intelek, tapi kurang cerdas. “kamu harus mempertimbangkan kemungkinan kalau dia homo, pria-pria yang terlalu tampan, terlalu baik, dan terlalu pintar, umumnya adalah homo” kata Isaac suatu ketika, mengutarakan hasil survei yang dilihatnya dari salah satu laman situs humor favoritnya. “sangat terpercaya, ada diagram venn-nya”  
“kalau dia homo, aku kan masih punya kamu” jawab Aurellia menanggapi kelakar Isaac. Isaac…
Donkey begitu polos dan beriman, tentu tidak susah bagi Aurellia untuk meyakinkannya bahwa sewaktu ia terlalu lama membalas SMS, sesungguhnya ia sedang belajar menjahit dari neneknya. Kejadian sesungguhnya ialah Isaac dengan dengan ganas menarik lepas resleting gaunnya hingga robek, sambil berbisik “jangan lupa tanyakan kepadanya, di mana Tuhannya, saat aku asyik mencumbui kekasihnya yang cantik saat ini? bukankah Tuhan tidak akan mempermalukan anak-anakNya?”.
Pria tolol, yang begitu mengasihi Tuhan (yang tidak pernah mempermalukan dirinya), yang pernah mengatakan pada Aurellia, bahwa tentu saja ia pernah menginginkan (Isaac yakin pasti sering, kalau dia ternyata memang bukan homo) seks yang menggelora dari tunangannya yang menggiurkan itu.
“Dia menarik bibirnya dari bibirku. Menjauhkan dadaku dari bahunya… terbata-bata berbisik: …tapi tidak sekarang, sayang,  karena kita harus menyangkal diri paling tidak 3 kali sehari demi cinta kepada Tuhan… aku akan menunggu sampai kamu lulus, dan kita akan mengesahkannya di hadapan altar suci… sakramen pe…ngurapan orang sakit ” suatu kali Aurellia yang setengah mabuk menjawab dengan jujur, sambil tertawa terbahak-bahak, saat ia memilih opsi ‘truth’ dalam permainan ‘Truth or Dare’. Pertanyaannya adalah lelucon paling konyol apa yang pernah dilontarkan kepadamu. Dan semua yang mengikuti permainan itu tertawa terbahak-bahak, mengamini bahwa ‘lelucon’ tersebut memang super menggelikan. “persetan! toh aku tahu, dia masih tidak bisa menghentikan kebiasaan masturbasinya yang berlumuran dosa itu, setiap kali ngaku dosa, pasti itu yang dia akukan, munafik!” Isaac membayangkan Donkey yang macho itu berlutut sambil terisak-isak seperti anak kecil di lutut bapa pengakuan dosanya. “Mungkin dia pernah dilecehkan…”  kata Isaac sambil terbahak sampai berurai air mata.
Dalam permainan itu pulalah, Isaac mengetahui bahwa Aurellia telah kehilangan keperawanannya saat berusia 17 tahun, pada tahun yang sama saat Isaac menghilangkan kepejakaannya dengan seorang gadis sebaya, yang ia sebut ‘pacar’ - gadis itu juga sok religius sekarang. Aurellia melakukannya dengan salah satu cowok paling populer di sekolahnya, karena cinta, dan ada cinta yang membutuhkan pembuktian semacam itu, dan dia tidak pernah menyesali hal tersebut, 4 tahun sekian bulan telah berlalu sejak hari itu, 20 sekian pria telah melewatkan malam-malam dan siang-siang panas penuh keintiman, seks dengannya. Kecuali pacarnya yang seksi, bodoh, dan kudus. “Mulanya, saat aku melihat fisiknya yang menggiurkan, aku berpikir, ‘wah pasti barangnya juga oke… staminanya pasti kuat… berapa ronde aku bisa bertahan?’, tapi nyatanya…” Aurellia membuat tanda salib sambil membalikkan bola matanya ke atas sambil menirukan suara-suara ‘bahasa roh’.
“Dia pikir aku gadis polos yang masih perawan. Mungkin bintik-bintik di wajahku membuatku tampak innocent. Dan kurasa Donkey cukup intelek untuk tahu bahwa tidak semua gadis mengeluarkan darah di malam pertamanya”.
It’s true look how they shine for you…
Look how they shine for you… look how they shine…
Metropolis Serafina yang dihujani cahaya semakin dekat, Isaac mengenang saat pertama kali dirinya dan Aurellia bermain seks. Kopulasi sungguhan, bukan Cuma cium-cium dan raba-raba.  Dalam kemabukan, tapi dengan kesadaran pikiran yang pernuh. Semuanya jernih. Setelah bermain ‘Truth or Dare’ sampai larut, botol-botol bir telah kosong. Di rumah Aniki, di pesta entah apa, di kamar mandi adiknya, dalam bath-tub. Mereka bermesraan, Isaac ingat semuanya, Aurelliapun tidak pernah lupa. Pengalaman pertama mereka. “tidak semua gadis berdarah… banyak gadis tidak berdarah… banyak selaput dara yang elastis… pacarku tercinta, Donkey yang bodoh tahu itu” kemudian Aurellia memasukkan penis Isaac ke dalam vaginanya. Naik turun. Tangan kanan Isaac meremas payudara Aurellia, tangan kirinya membelai-belai bokong mulus bertabur bintik-bintik merah muda tersebut.
Mereka berciuman, panas, seperti biasanya, selalu basah dan penuh air liur. Menetes-netes di dagu dan jatuh di atas dada telanjang Isaac, mengalir melalui putingnya.  Aurellia melipstiki putting itu, merah menyala, lalu Saat orgasme, menggigitnya keras-leras. Isaac menjerit kesakitan. Ia tidak pakai kondom, dan orgasme menghampirinya dinatra kesakitan tersebut. tanpa kendali, ia keluar di dalam. Untuk pertama kalinya, dari sekian kali permainan seksnya, Isaac mengeluarkan semennya dalam vagina seorang gadis. Aurellia bahkan tidak merasa ragu atau bingung, dia terus mengguncangkan tubuhnya, mengendarai penis Isaac.  Jari-jemari Aurellia menari-nari di atas lengan dan telapak tangannya, seperti yang dilakukannya malam ini. Jari-jemari lentik itu berdansa di atas punggung tangannya yang  sedang memegang setir. Garis-garis cahaya masih panjang menerpa mereka.
“Look at the stars, look how they shine for you… and all the things that you do…” Isaac ikut menyanyikan kalimat terakhir lagu tersebut dengan suaranya yang parau.      
Aurellia membuka jendelanya, membiarkan angin sejuk kencang menerpa rambutnya, melambai-lambai keemasan. Anting-anting gantung melayang-layang dari telinganya, seolah berenang dalam kelembutan rambut tebal itu. “waktu itu mukamu pucat sekali”.  Aurellia menjulurkan lehernya dan mencium bibir Isaac. Isaac terkejut, mobilnya berpindah jalur dan nyaris menabrak truk di depannya, mengejutkan mobil di belakangnya, pengemudinya, sambil marah membunyikan serentetan bel yang memekakkan telinga, dan melewati porsche emas itu sambil mengacungkan jari tengah. Aurellia melepaskan ciumannya sambil tertawa. Jantung Isaac berdebar keras. Kecepatan mobil itu menurun dan semakin turun, Isaac masih shock. “anjing! Gila, di depan kita tadi itu truk loh!”
Aurellia terbahak-bahak, suara tawanya merdu dan menyenangkan, wajahnya bahkan semakin cantik saat  lesung pipit itu tampak melubangi pipinya. ‘Yellow’ sudah habis berputar, tapi lirik dan iramanya masih terngiang-ngiang di kepala Isaac yang masih berusaha menenangkan diri. Selalu ada maaf bagi gadis cantik, sekalipun ia tidak mengucapkan permintaan maaf itu sama sekali. Seketika Isaac  lupa dengan amarahnya. “bahkan lebih pucat dari saat ini”. Aurellia tertawa renyah.
“Waktu apa?”
“Waktu kamu tumpah di dalamku”
“Itu kan cuman sekali… lagipula katamu…”
“aku bohong… aku nggak tau kapan aku subur atau nggak… ahahaha… Isaac, aku hamil anakmu”  
Mobil itu berhenti, sepenuhnya berhenti, hanya beberapa ratus meter dari ujung jembatan di kota Serafina. Dari music player kini mengalun ‘Aphrodisiac’. Musik berdentum-dentum dan suara Anabella Lwin yang melengking menjadi latar pergerakan Isaac.
Take an a-a-aphrodisiac, don't do no-no-nothing, just relax
Didorongnya bahu Aurellia hingga tubuhnya bersandar ke pintu. Kami akan melakukannya lagi.Kepala dan rambutnya yang coklat keemasan menggantung dari jendela yang terbuka. Tangan kanan Isaac meraba payudaranya yang penuh, menyelipkan jari-jemarinya ke dalam leher gaun biru muda yang rendah itu. Isaac memijat, meremas, memelintir. Sepasang buah dada berbintik-bintik merah muda menyembul menantang, Isaac mengulum payudara itu, satu persatu.  Aurellia menjangkau tasnya, mengeluarkan sekotak coklat, mengambil sebutir dan mengulumnya. Mengulum jari-jarinya bersama coklat tersebut. lengket dan basah, brandy mengalir dari dalam coklatnya. Afrodisiak…
If you want to fall in love with somebody, Somebody that you're not in love with at all…
Tangan kiri Isaac memberi isyarat pada Aurellia untuk mengangkat kedua tungkainya, mobil itu sempit. Tubuh Isaac kecil, dalam beberapa gerakan, dia berhasil menghadapkan wajahnya ke selangkangan Aurellia. Aurellia menurunkan celana dalamnya. Not in love with at all? Benarkah? Mungkin aku mencintainya? Bagaimana kalau ternyata aku mencintainya?  Isaac… Isaac… “Ahhh…”  Isaac membelai sepasang bibir merah muda membujur di selangkangannya. Rambut kemaluannya merah keemasan, entah bagaimana panangannanya, begitu harum dan lembut, dibentuk menjadi simpul pita diatas kedua bibir yang menggoda tersebut.
… a - a – a – aphrodisiac…
“kukira tadi kamu pakai lipstik merah, firecrotch ? Kenapa di hapus?” Isaac mengulurkan tangan kanannya kepada Aurellia. “minta lipstiknya”. Aku memakai afrodisiak bukan karena aku tidak mencintainya… justru sebaliknya, aku ingin menunjukkan cintaku dalam birahiku yang menggelora…
… don’t do nothing just relax…
Isaac, dengan diterangi lampu jalanan. Ia mewarnai sepasang bibir yang agak menganga itu dengan lipstik. Aurellia mendesah “uh-ah” seiring dengan suara latar di lagu tersebut. Saat aku menikah dengan Domenico… apa dia akan mampu memperlakukanku sama seperti Isaac memperlakukanku? Bagaimana kalau tidak?  
“tadi kamu ngomong apa?” Isaac mendekatkan telinganya ke bujuran bibir merah tersebut. bibir itu berdenyut-denyut, tapi tetap diam tak bersuara. Tidak semua lelaki yang pernah meniduriku… tidak semuanya memberikan kesenangan yang Isaac berikan kepadaku… bahkan ini lebih dari sekedar seks. “katakan lagi, kamu kenapa?” Isaac menempelkan telinganya ke situ, berusaha mendengaran.  Domenico… bagaimana kehidupan seks ku dengannya nanti? Akankah aku bahagia dengan manusia separuh malaikat itu? bukankah aku sudah cukup bosan dengan kesantoannya itu?  
“oh baik, aku mengerti” Isaac mengangguk, sekalipun tidak ada suara yang keluar dari dalam sana. “aku mengerti, aku tidak perlu percaya pada dusta yang diucapkan oleh mulut di atas sana… aku hanya perlu percaya pada ‘mulut’ yang di bawah sini… aku mengerti firecrotch…” Aurellia menyisipkan sebuitir coklat di bibirnya yang lain. merah, semerah bibir atasnya. Bukankah lelaki yang paling sesuai denganku… adalah lelaki yang seperti Isaac? Riang gembira dan lucu. Aku mencintainya kan?
exciting you… just make you love me too…
Ponsel Aurellia berbunyi, pesan dari Donkey rupanya. Lelaki bodoh ini mengganggu saja. “atas kejujuranmu, aku akan memberimu hadiah yang pasti akan kamu sukai, oh mulut yang jujur!” Isaac menjulurkan lidahnya. Ia menjilati  coklat dan menciumi bibir yang membujur merah menyala itu. Aurellia mengulum coklat yang lain, kemudian membalas SMS Donkey yang terkirim ke ponselnya. Aurellia setia membalas SMS-SMS membosankan lelaki itu. Sekalipun di saat seperti ini, ia hampir lupa seperti apa Donkey yang mencintainya tersebut. Aurellia sibuk menikmati bibirnya yang lain dicumbu dengan kejantanan liar tanpa beban seorang anak remaja tanggung. Aku… sejak kapan aku jatuh cinta? Cinta yang semacam apa? Lidah Isaac asyik menari-nari di bawah sana. Seperti para Indian yang menarikan tarian minta hujan, hujan yang becek dan beraroma khas, dengan rasa coklat dan brandy membasahi bibir Isaac. Isaac meneguk dan terus meneguk. Rasa hausnya tidak pernah terpuaskan, belum waktunya terpuaskan.
SMS balasan yang tidak kunjung terkirim, hilang konsentrasi untuk menemukan fokus pembicaraan, mengetik dengan tersendat-sendat, salah memencet huruf ‘I’ dengan huruf ‘u’. akhirnya, di tengah permulan badai orgasme, pesan itu dapat terkirim dengan sukses. Waktunya berkonsentrasi, ini dia… ini dia… ini diaaaa… aaah… aahhhhhh….. bibirnya merekah mulutnya menganga, setetes brandy dan coklat mengalir ke pipinya yang merona. Ikal-ikal coklat keemasan terayun-ayun saat kepala Aurellia yang cantik menggeleng-geleng. Menyerukan desah kenikmatan, menekan-nekan rambut Isaac yang sudah ditata rapi agar kepala anak muda itu merapat ke selangkangannya. Hidung Isaac menggelitik klitorisnya. Kuku-kuku Aurellia yang merah mencengkeram pipi Isaac yang kemerahan terbakar nafsu. Cinta yang bagaimana saja boleh…
I'll be your aphrodisiac Don't do nothing, just relax
Cinta tai kucing itu bukan untuk mereka, setidaknya itulah yang selalu dipikirkan oleh Isaac. Seks tidak selalu merupakan bukti cinta, tapi bagi Isaac, cinta harus dinyatakan dengan seks. Aku tidak sedikitpun mencintaimu, Sundalku sayang. Gadis ini sangat menyenangkan, tapi bukan berarti Isaac jatuh hati padanya, aku adalah lelaki yang memiliki prinsip, jika mereka salah mempersepsikan prinsipku, itu salah mereka sendiri, bukan tanggung jawabku. Selalu ada kemungkinan bahwa gadis itu bisa jadi jatuh hati kepada Isaac. Tidak sekalipun Isaac ingin merebut Aurellia dari lelaki bodoh yang tidak pernah ditemuinya di dunia nyata tersebut. Gadis ini hanyalah satu dari taklukanku. Dan mungkin akupun hanyalah salah satu dari taklukannya yang 20 sekian itu, atau sesungguhnya 30 sekian? Perempuan selalu berusaha mengurang-ngurangi jumlah sesungguhnya agar tidak dikira jalang.  Bukankah semua ini hanya tentang seks? Isaac bahkan tidak bisa mendeskripsikan Aurellia selain cantik dan menyenangkan… dan tentu sajam servisnya yang dahsyat, dasar jalang!.
Saat manusia bisa saling menggunakan tanpa ada pihak yang merasa  dirugikan… kenapa orang-orang bodoh harus memaksakan ‘cinta’ kalau yang diinginkan sebenarnya hanya seks?
Posisi mereka telah berganti. Wajah Isaac yang belepotan lipstik dan coklat menggantung keluar dari jendela. Matanya nyalang melihat mobil-mobil yang berlalu lalang dari balik asap yang dihembuskannya. Sambil berbisik “I’m in the mood for lust” saat lagu berganti. Alunan piano membahana di ruang dengar mereka.
Isaac tidak terlalu mengerti apa itu cinta, tapi ia sangat dapat memahami, dan bisa merasakan apa itu nafsu. Matanya mengerjap-ngerjap. Merasakan sensasi gigi-gigi Aurellia yang sesekali mengigit kecil saat gadis itu mengulum penisnya. Tanpa coklat, rasa lengkat yang ditimbulkannya sangat tidak nyaman, apalagi kalau klimaks, sangat tidak mengenakkan. Isaac menjepit kepala gadis itu dengan kedua pahanya, kemudian menutup mata sambil merentangkan tangan. Mengepak-ngepakkannya seperti terbang. Orang-orang dalam mobil yang melewatinya bertanya-tanya dalam hati, apa yang terjadi? Kenapa bocah ini? begitu muda dan kaya… tentu saja, dia membawa porsche. Dia sedang high? dia tampat sangat menikmati setiap detik yang dilewatinya. Isaac menghembuskan asap berbentuk cincin. Memperkirakan seberapa kuat staminanya, menahan nafas, menghitung serangkaian angka, satu sampai sembilan puluh lima, kemudian menghembuskannya. Lengannya mengepak-ngepak, menarik ulur, menunggu, menahan. Meregangkan tungkai, membiarkan wajah Aurellia merasakan bahan denim celananya. nampaknya detik-detik ini akan berlangsung selamanya. Kerlap-kerlip lampu gemerlapan. Kepalanya melayang-layang, penisnya keenakan. Aku hampir tidak tahu apa itu cinta, selain cinta adalah tai kucing.
Isaac tidak habis pikir dengan kepala-kepala sok suci yang akan menghakimi orang-orang semacam dirinya dan Aurellia. Hentikan kemunafikan itu dan hisaplah kontolku! . Hidup hanya sekali, hidup harus diisi dengan segala yang menyenangkan. Seks adalah hal yang sangat wajar dan tepat untuk mengisinya, kehidupan itu. Seks hanyalah salah satu kebutuhan biologis manusia, seperti makan, minum, pup. Bagaimana bisa seseorang harus menunggu pernikahan yang sah atas dasar cinta terlebih dulu, baru kemudian seks dan orgasme? Apalagi dengan gadis secantik ini… bagaimana bisa menunggu? Siapa yang bisa tahan? (Donkey tahan, cih)  
Dia toh mau, aku tidak memaksa… tentu saja,aku tidak jatuh cinta kepadanya,  dia tidak akan pernah kunikahi… jadi kenapa harus menyangkal diri? Apa gunanya semua itu?  Cinta itu tai kucing, dan seorang gentleman seperti aku tidak makan tai kucing. Saat lelaki selalu membayar makan malam dan semua hal yang dibeli oleh teman kencannya, untuk kemudian dimahkotai dengan seks yang memuaskan,  bukankah semuanya sudah terbayar lunas?  Bukankah  gadis itu juga merasakan nikmatnya?
“Bukan begitu, Aurrelle?” bisik Isaac tanpa suara sambil menekan kepala Aurellia agar penisnya bisa masuk lebih dalam. Aurellia hampir tersedak. Tapi dia tidak tersedak. Dia bahkan tidak protes. ,aka Isaac menekan kepala gadis itu agar semakin rapat ke selangkangannya.
Isaac mengingat gadis yang menjadi pacar pertama dan teman main seks pertamanya, yang pernah dia kira sebagai jatuh cinta pada pandangan pertama. Tai! Clara? Claire? Gadis munafik itu, juara matematika… ugh, dia tidak secantik itu… sekarang begitu aktifnya dia dalam kegiatan gereja, begitu lantangnya dia menyanyikan Aleluia, munafik, waktu itu, seperti anjing dia menyodorkan pantatnya… ‘masukkan anus saja… jangan di bawah… kalau kamu baik… janagn  ambil yang bawah …’ apa bedanya anus dan vagina? Sama-sama lubang permanen di tubuh perempuan. Ah… saat pertama kali melakukan seks itu… aku juga tidak pakai kondom, aku menancapkannya ke anus gadis itu. dia mengerang kesakitan. Dia menjerit keras sekali… hanya sebentar…hanya tiga-empat kali menggoyang pantatnya…diantara jerit tangisnya yang memuakkan. Oh masih ingat aku, gadis itu menamparku sebelum mengusirku dari rumahnya, setelah menyumpahiku seperti Maria Goretti menyumpahi Allesandro, dia tidak mau lagi bicara padaku. Tidak ada pisau di sana…  sejak itu dia selalu memakai kalung rosario ke mana-mana… bernyanyi Aleluia keras-keras… tidak sedikit yang tahu sundal itu pernah bermain seks bersamaku, di anusnya. Gadis munafik, jalang murahan sok suci… bahkan dia masih ‘berhutang’ untuk makan malam mahal dan beberapa potong gaun. Persetan  dengan kehormatan dan harga diri kaum wanita. Setelah ia memutuskanku sepihak… setelah penisku bergoyang sesaat di anusnya… dia tidak memiliki kesadaran sedikitpun untuk mengganti semuanya… jalang murah! Sundal terkutuk! Mati saja seribu kali sana!  
Tangannya berhenti menekan kepala yang indah itu saat Aurellia, sambil kesulitan bernapas, menepuk pahanya.  Isaac tersadar dari dendamnya yang  mungkin tidak akan pernah dia lepaskan. Ia membelai puncak kepalanya yang lembut. Jari-jarinya menyelinap ke dalam ikal keemasan dan menggelitiki tengkuknya. Ia bahkan tidak meminta maaf. Ia tidak terbiasa meminta maaf. Berusaha berlaku lebih lembut, mungkin itulah caranya meminta maaf. Mereka berpandangan,Aurellia melepaskan penis Isaac dari dalam mulutnya, terengah-engah. Isaac melempar senyum. “… funny, but when you near me… I’m in the mood for love” Aurellia ikut bernyanyi di sela deru nafasnya. Cinta yang… bahkan aku tidak tahu… cinta macam apa ini.
Kamu tidak mencintaiku tentu saja, jangan berusaha romantis. Tidak usah, wanita sundal! “yang kamu cintai… bukan aku… yang kamu cintai adalah Donkey, kamu tau itu” Isaac kembali mengisap rokoknya, menyemburkan asapnya ke wajah Aurellia. Lembaran-lembaran cahaya terus menerpa mereka. Dalam satu kocokan, Isaac mengerang, ia mencapai klimaks, dan semennya menyemprot wajah Aurellia. Di dahi dan pipinya. Mengalir turun ke hidung dan bibir gadis itu. Aurellia menjilatnya. “aku tidak membiarkan semua lelaki melakukan ini kepadaku… mungkin aku jatuh cinta padamu Isaac”
Suatu perasaan sebal menyeruak di dada Isaac. “jalang pendusta… hentikan semua itu, kamu tidak mencintaiku” Isaac tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Aurellia, ataupun ‘In the Mood for love’. Ia hanya mendengar bunyi  sirine, dan bunyi itu semakin lama semakin dekat. Jawaban itu muncul begitu saja setelah ia membaca gerak bibir Aurellia. Aurellia tersenyum kecut, berdusta? Apakah aku sedang berdusta saat mengatakan ini?  tidakkah dia tahu aku sungguh-sungguh jatuh cinta? tapi kemudian senyum lain merekah di wajahnya saat membaca gerak bibir Isaac. “Happy Birthday”
“Ini masih belum jam 12 sayang”.

Sirine itu berhenti, dari belakang, cahaya merah dan biru berselang-seling menimpa  pipi mereka. ”keparat” bisik Isaac sambil memejamkan mata. Sekali lagi melemparkan kepalanya ke belakang, berpura-pura mati. Aurellia membenahi pakaiannya dengan tenang. Mengambil tissue, membersihkan lelehan semen yang menumpahi make-up waterproofnya.  Apa yang kupikirkan? Tentu saja aku tidak mencintai anak ini! anak kecil gila pesta yang tidak bisa diandalkan… tapi…  Seorang polisi menyinari wajah Isaac yang berlumuran lipstik dan coklat dengan senter. Rambutnya acak-acakan. Ada 2 polisi. Polisi yang kedua bertanya apakah semuanya baik-baik saja? Aku merasa aneh, tapi secara umum, semuanya baik-baik saja… aku bukan sedang ditolak oleh anak kecil ini… aku hanya… aku hanya berkelakar. Yang kucintai hanyalah Domenicoku tersayang.
“Saya hanya kecapekan pak, ini pertama kalinya saya nyetir mobil mahal, saya gemetaran, nervous, dan rasanya saya hampir mati… sumpah saya bukan lagi high, sejujurnya saya bahkan nggak pernah high… Apalagi cewek cantik di sebelah saya ini hampir berulang tahun, jadi tolong saya jangan diperkarakan. Sumpah saya bersih” Isaac berbicara tanpa membuka matanya. Aurellia tersenyum manis sambil melambaikan tangannya. Lalu perasaan apa ini? yang menahanku di kota ini… yang membuat kepulanganku tertunda 2 kali?  Cinta?  mungkin aku mencintainya, dengan cara yang… ya bentuk cinta itu berbeda-beda. Tapi ‘cinta’ kepada bajingan cilik ini tidak akan menggantikan ‘cinta’ yang aku punya bagi Domenico.
“bisa tujukkan surat-suratnya? kuharap gadis cantik ini tidak harus melewatkan hari ulang tahunnya di kantor…” salah seorang polisi mengamati Aurellia. Kemudian berdehem. Definisikan cinta itu  Aurellia!seperti biasanya… cinta yang berbeda-beda bagi tiap orang… Cinta seperti apa yang kamu tujukan bagi cowok kaya yang manja ini kan? Cinta… Seks…
“tentu saja dia tidak akan pak… tapi kira-kira di mana surat-surat itu ya pak?” sambil masih memejamkan mata, Isaac merogoh dompetnya, semua uangnya 100 dolar. “kalau saya bilang saya adalah Isaac Antoni Milk… anda pasti percaya mobil ini bukan curian kan?” Isaac sengaja tidak membuka matanya untuk mencari surat-surat yang ditanyakan tersebut, ia justru mengambil KTP dan 4 lembaran 100 dolar. “… anggap saja saya sudah menunjukkan surat-suratnya ya pak… saya yakin pasti ada di sekitar sini… tapi lihatlah… mata ini terpejam seperti mau mati… ngomong-ngomong…untuk merayakan ulang tahunnya, dan atas kemakluman bapak sekalian, silahkan ini ada souvenir seadanya…” seks… bukankah kami berpikiran sama tentang seks? Seks bukan cinta, seks tidak harus cinta… seks… bukankah dari awal sudah ada komitmen tidak tertulis bahwa kami hanya saling menikmati? Tampaknya akhu bahkan tidak mencintai bajingan ini dalam bentuk apapun…
Aku hanya mencintai diriku sendiri… dan dia bisa membuatku merasa nyaman…  
Kedua polisi itu berpandangan. Tidak akan ada gunanya memperkarakan bocah kaya yang sok ini. keluarganya salah satu yang terkaya di daerah sini. kejujuran mereka tidak akan menghasilkan apapun. Sekarang di hadapan mata mereka ada 4 lembar 100 dollar gratis. Setiap lembarnya senilai dengan pengabdian mereka selama seminggu. Apa salahnya? Bukankah Tuhan bisa memberi berkat dari manapun? Bukankah dosa jika menolak berkat yang telah disediakan bagi mereka? Bayaran 2 minggu gratis. Tapi sumpah jabatan… Mereka terdiam, masih belum tahu harus bagaimana.
“Isaac, tidakkah di hari ulang tahunku kamu harus lebih murah hati? Tambahkanlah masing-masing dari mereka 100 dollar lagi” Aurellia membelai selangkangan Isaac yang resletingya belum sempat dikancingkan. Dan aku menikmatinya… apalagi yang kamu harapkan? Gadis bodoh! Cintamu yang layak, kekasihmu yang baik hati dan setia ada di Barcelona, bukan bajingan cilik sok kuasa yang berusaha menyuap polisi ini! kamu tidak mencintainya, kamu mencintai dirimu sendiri!
Bayaran 3 minggu gratis! Ah, Istriku menginginkan baju baru untuk menghadiri perayaan thanksgiving… kapan dia terakhir membeli baju baru? Pikir polisi yang lebih tua. Tampaknya 300 dollar cukup untuk membeli cincin berlian sederhana untuk melamar keksihku… sudah 4 tahun kupacari… ini adalah berkat. Ini adalah semacam jawaban doa… pikir rekannya yang lebih muda. Mereka mengingat sebuah anekdot tentang seorang pastor yang kebanjiran dan dengan iman yang teguh, minta bantuan Tuhan agar dirinya diselamatkan. Pastor itu menolak 3 kali perahu bantuan yang hendak menolongnya, saat banjir itu mencapai lutut, perut, dan dadanya. Sang pastor berharap Tuhan akan datang menolong dan menyelamatkan dirinyanya, secara harafiah, dengan tanganNya sendiri. Akhirnya banjir mencapai leher pastor itu, kemudian angain smakin kencang dan matilah ia, hanyut entah ke mana. Tapi ini adalah dunia nyata, tidak akan ada penawaran yang lebih menguntungkan dari ini, bukankah kesempatan kedua hanya ada dalam dongeng-dongeng?  
“atas kebaikan hati kalian, kutambahkan tip 50 dollar per orang, kata Isaac, matanya tetap terpejam. Sekarang, bisa tolong tinggalkan aku dalam kematianku untuk sesaat?” tapi bukankah sikap arogan dan kebejatannya inilah yang membuat bajingan ini seksi? Melebihi keseksian fisik Domenico yang berhati lembut. Ya dia seksi sekali… semua ini bukan cinta… tidak ada cinta untuknya, hanya untuk ganti suasana… hidup bersama Domenico mungkin akan seperti hidup di biara, semua orang begitu tergila-gila akan kerohanian. Tapi di sini… di sini… aku layak mendapatkannya, toh dia tidak akan tahu… tidak akan merasa tersakiti…
Isaac dan Aurellia tertawa terbahak-bahak saat kedua polisi itu dengan wajah bingung meninggalkan mereka, masih sulit mempercayai keberuntungan yang menerkam tanpa diduga-duga. Apa salahnya? Kita hanya kejatuhan berkat! Berkat yang sangat menakjuban! Orang-orang kaya memang aneh kan? Isaac tidak pernah melihat wajah mereka sama sekali. yang dilihatnya hanya kepala Aurellia, yang kembali membungkukkan badan, mendekapkan wajah ke selangkangannya. Dengan binal membuka selerekan dan boxer Isaac dengan menggunakan bibirnya. “kamu tahu, ada semacam rasa haus yang tidak pernah dapat terpuaskan?” inilah definisinya. Cinta hanya untuk Domenico, seperti yang selalu kuucapkan pada siapa saja… tapi… bocah ini… dan lelaki-lelaki brengsek lainnya… siapa yang bisa menahan pesona mereka? Karena akupun mencintai diriku sendiri.
Aurellia melahapnya, mengulum dan mengisap. Malam masih begitu panjang, usia 21 seolah tinggal selamanya, usia 22 tidak akan pernah datang. Isaac menjalankan mobilnya dlam kecepatan 200 km/jam. Sekali lagi meninggalkan batas-batas ruang dan waktu, semuanya seolah terhisap ke dalam garis-garis cahaya. Metropolis Serafina yang terang seperti siang. Rasa nikmat di penisnya, gaun biru Aurellia, porsche emas… semuanya seperti gambar dalam mimpi yang mewujud dalam kenyataan. Klimaks. Orgasme. Tapi Aurellia tidak lagi membiarkan Isaac menyemburkan semen di wajahnya. Tidak juga menelannya. Cairan semen itu mengalir di paha Isaac, membasahi denimnya.
Isaac menyetir dalam diam, ada sedikit rasa kecewa karena ada hal kecil yang telah berubah. Semuanya tidak akan sama lagi. Aurellia merapikan gaun birunya. “aku berantakan sekali ya” Tampaknya sudah waktunya pulang Domenico sudah menunggu… betapa dia merindukanku. Pria yang mencintaiku itu.
Isaac tersenyum menanggapinya. “akupun tidak lebih baik” katanya sambil mengambil tissue dan membersihkan wajahnya yang terasa panas dan lengket. Mengambil tissue lain untuk menyeka pahanya yang basah dan penisnya yang lengket. Mengkerut, masih belum dimasukkan ke dalam celananya. Kamu telah merubah sesuatu… aku merasakannya, aku tahu. Isaac menutup jendelanya mobilnya. Music player mengalunkan ‘Humorous Duet for Cats’. Serangkaian ‘meow-meow’ menggambarkan argumen-argumen dalam hati mereka yang tidak terucapkan, tidak perlu diucapkan, karena bila diucapkanpun diperlukan pengertian lebih untuk memahaminya… dan usaha dari pengertian-pengertian ini akan membawa pada luka-luka baru yang tidak penting dalam hubungan mereka yang singkat di musim panas ini. Menipu diri… toleransi, penyangkalan diri yang pada umunya selalu disangkal oleh orang-orang semacam mereka.
Aurellia memandang mata Isaac dari balik spion. “Aku akan kembali ke Barcelona minggu depan”
“wah cepat sekali… kenapa?”
“karena cinta itu tai kucing”
“oh… tentu saja, cinta itu tai kucing…”
Porsche emas melesat ke dalam belantara cahaya Metropolis Serafina. Segalanya tiba-tiba terasa canggung. Repetisi ‘meow-meow’ yang melodik mengisi kekosongan yang tiba-tiba mengembang di antara mereka. “kita buat pekan terakhirmu menyenangkan…”
“tentu saja, tapi sebelumnya.. jangan lupa tutup dulu resletingmu ” Isaac terbahak-bahak sambil membelai penis yang menggeletak di atas pahanya “meeeowwww… bukannya kamu justru suka?” jawabnya. Aurellia tertawa tidak kalah keras, mulanya aneh… sangat memaksa, tapi mereka sepakat ketidaknyamanan yang mengembang itu harus segera dihabisi. Mereka tertawa terbahak-bahak, ya, itu jauh lebih baik, kekosongan yang menyebalkan ituakan mati… segera… sekarang… bagus… Aurellia mengembalikan penis itu ke tempatnya, kemudian mengancingkan resleting Isaac. Pekan terakhir yang menyenangkan… akan sangat menyenangkan! “pesta baru saja dimulai kan?”
“selamat datang di pesta paling menyenangkan di sepanjang umur hidupmu!” porsche emas itu melebur ke dimensi lain dalam perjalanan cahaya yang menyenangkan,  melupakan ruang dan waktu, batas-batas apapun, segalanya terfusi, menjadi sukacita mada muda yang kekal.
MEMENTO MORI
KARENA TIDAK ADA YANG ABADI DI ATAS BUMI INI

Chapter 00
Sebuah Percakapan tentang kematian di suatu sore yang sejuk.
“kamu tahu, aku tidak takut mati, kematian sudah seperti teman lama bagi keluarga ini” kata Isaac pada suatu sore yang sejuk di awal musim semi. Kemudian ia menuangkan secangkir teh ke dalam cangkir Aurellia.
“Ini Earl Grey, kesukaan kakekku. Kamu lihat, pria berwajah tegas dengan rambut abu-abu itu? Itulah dia, nama teh ini sangat cocok dengannya”
Aurellia menoleh, memandang sebuah tembok yang dipenuhi dengan lukisan potret berbingkai oval yang menyusun suatu konfigurasi pohon keluarga. “potret pria yang berada 2 tingkat di atas potretmu?”
“yup, yang itu… dia adalah satu-satunya ayah yang kukenal, dan sekarang dia sudah mati, mati sebagai seorang kakek tua kurus penyakitan… berbeda sekali dari potret itu”
Isaac memandangi potret itu sejenak. “kamu tidak akan mengenali jenazahnya sebagai pria di potret itu Aurellia”
Aurellia mengusap bahu Isaac. Isaac menepukkan tangannya ke atas tangan Aurellia sambil tersenyum lebar.
“tidak, sesungguhnya aku sama sekali tidak sedih, kematiannya adalah kebebasanku. Sejak kematiannya 7 tahun yang lalu, aku menjadi tidak terbatas… tidak seorangpun bisa menghalangiku mendapatkan apapun yang aku mau”
Isaac menyeruput tehnya. “mungkin inilah satu-satunya kesamaanku dengan kakek, kami sama-sama suka Earl Grey”
Aurellia menyeruput tehnya juga. “sedap sekali”
“ini hasil perkebunan kami sendiri, percayalah kamu tidak akan menemukan Earl Grey lain yang lebih sedap daripada ini”
Aurellia tersenyum, ia memasukkan sesendok gula dan mengaduknya. “jadi… ceritakanlah tentang keluargamu”
“secara teknis, aku punya sebuah keluarga besar, kamu bereuni 2 kali setahun, seringnya di rumah ini, tapi secara praktis, hanya Maximlah satu-satunya keluarga yang aku miliki, papaku mati sebelum aku dilahirkan, kemudian mamaku menyusulnya tidak lama setelah itu… keluargaku yang lain,  keluarga besar itu, kamu bisa amati sendiri di pohon keluarga itu, aku tidak hapal”
Isaac menuangkan teh sekali lagi ke cangkirnya. “cobalah macaroon stroberi itu, menurutku itu adalah yang paling enak di antara semua kudapan ini.
“aku tidak pernah mengenal mereka, papa dan mamaku itu. Wajah-wajah mereka yang aku kenal, adalah wajah-wajah di atas kertas foto, senyuman mereka yang abadi, adalah senyuman yang tidak pernah mereka bagi bersamaku. Aku tidak punya kenangan apapun tentang mereka, bahkan saat aku menceritakan ini kepadamu, rasanya berbeda dari saat aku bercerita tentang kakekku.
“aku seperti bercerita tentang orang lain, karakter-karakter fiksional dari tempat yang jauh, yang secara biologis adalah orang tuaku, tapi tidak pernah sungguh-sungguh menjadi orang tuaku. Kamu mengerti maksudku kan?”
Aurellia mengangguk.
“papaku mati karena kebut-kebutan liar di jalan tol, dalam mobil Corvette Stingray klasik milik kakek. Waktu itu, dia baru berusia 33 tahun. Aku pernah lihat fotonya, maksudku, mobil itu, pada saat ia masih gagah, dan saat ia telah menjadi seonggok rongsokan terbakar, dengan  asap hitam membumbung tinggi di atasnya. Oh, tentu saja aku juga pernah melihat foto papaku di dalam peti matinya…
“Orang-orang, kakekku, bibi-bibiku, dan orang-orang yang mengenal papaku selalu mengatakan aku persis dengannya. Dengan berbagai nada, dalam kemarahan dan dalam suasana sentimental yang melankolis. ‘Isaac adalah Theo yang terlahir kembali’. Persetan. Aku tidak mengenal Theo mereka, dan aku bukanlah Theo mereka. Aku tidak suka disamakan dengan orang yang telah mati itu… orang yang mati muda, saat ia seharusnya masih memiliki sekian puluh tahun untuk dihabiskan dalam kesenangan. Aurellia, aku akan memiliki kehidupan yang lebih baik, jauh lebih baik darinya, jauh lebih bahagia darinya. Itulah yang selalu muncul dalam pikiranku saat aku melihat fotonya… dan foto jenazahnya di dalam peti mati. Lucu sekali saat kamu harus melihat orang yang wajahnya hampir persis denganmu ada di dalam sana” Isaac tertawa kecil.
“tapi untunglah dia mati. Keadaannya setelah kecelakaan itu sangat parah, kata mereka, kamu bisa menggunakan istilah ‘kacau-balau’ untuk mendeskripsikannya. Ia dibalut seperti mumi. Serangkaian cedera parah, patah tulang rusuk, patang tulang punggung, luka bakar, gegar otak, kata dokter, jika sembuhpun ia akan hidup sebagai seorang invalid, lumpuh, danharus menggunakan respirator sampai selama-lamanya. Aku membayangkan jika aku ada di posisinya, seorang hedonis sejati, sepertiku, akan teronggok di atas kasur selamanya… pujilah Tuhan, karena papaku mati.”
“mungkin papamu memilih untuk mati?”
“ya, memang dia memilih untuk mati, ia sadar sesaat sebelum ia mati, kata-kata terakhirnya adalah bait terakhir doa Salam Maria, mungkin ia melihat neneknya, yang selalu menjadi bunda Maria yang lembut baginya saat kakekku yang garang itu menghukumnya karena berbagai pelanggaran ketidakdisiplinan”
“kamu sangat tidak disiplin Isaac, kamu pantas dihukum!” Aurellia terkikik.
“Siapa berani menghukumku? Maksim yang perasa itu tidak akan tega melakukan hal sebiadab itu, pada adiknya yang yatim-piatu-malang-dan-tidak-pernah-merasakan-kasih-papa-mama ini” Isaac tergelak, kemudian menuangkan teh sekali lagi ke dalam cangkir Aurellia yang telah tandas.
“dan mamamu, bagaimana ia bisa meninggal? Apakah ia terlalu mencintai papamu, sehingga kemudian menyusulnya ke lubang kubur?”
“ya, tepat seperti itu. Ia mati bunuh diri, setelah depresi dan hampir gila karena kehilangan papa…”
Aurellia terdiam sejenak, dia seketika ia merasa sangat tidak enak. “oh… sorry…”
“tidak perlu minta maaf, secara biologis, dia adalah mamaku, tapi aku tidak pernah mengenalnya, aku tidak pernah mengenal seorang mamapun, dan aku tidak tahu, bagaimana seharusnya seorang mama memperlakukan anaknya…” Isaac diam sejenak.
“kemarilah…”
Aurellia beranjak ke sofa tempat Isaac duduk. Isaac mencium pipinya, kemudian merebahkan kepalanya di atas pangkuan Aurellia. “saat ini, kamulah mamaku” Aurellia membelai rambut Isaac yang coklat muda..
“mama”
“ya nak” jawab Aurellia geli.
“bukan maut yang menggetarkan hatiku, tetapi hidup yang tidak hidup, karena kehilangan daya, dan kehilangan fitrahnya . Manusia yang kehilangan kebahagiaannya, dia tidak lagi hidup… seperti mamaku, mama kandungku, bukan kamu… waktu itu, dia adalah sekedar mayat yang bernafas.
“papa menjalani hidup yang lebih bahagia daripada mama… akhirnya memang tidak terlalu mulus, tapi dia memiliki hidup yang lebih bernilai, dia mengisi hidupnya dengan kebahagiaan, dan mengakhirinya sebagai akibat kebahagiaan tersebut…
“jika aku ingat suatu saat nanti aku akan mati, ma, aku semakin terpacu untuk mengejar kebahagiaan itu… kenikmatan ini…” Isaac meremas buah dada Aurellia.
“waktunya bayimu minum susu ma”
“apa kamu menggunakan kisah sedih ini untuk merayu semua gadis?”
“tidak semua… beberapa lebih tertarik dengan hadiah-hadiah yang aku berikan kepada mereka… nah, sekarang ma, jika aku ini adalah bayimu, bagaimanakah engkau akan menyusuiku? Dengan payudara yang tertutupi baju begitu? Atau bagaimana?”


Chapter 01.
Samuel dan Teman-temannya yang Intelek
Matahari hampir terbenam  saat Samuel berjalan seorang diri di koridor sekolah. Sebuah lorong panjang yang dibangun dari batu kapur dengan berlangit-langit melengkung. Bayangan dari mozaik warna-warni yang memahkotai serangkaian jendela lebar terefleksi di atas lantai marmer. Samuel berdiri di atasnya, membiarkan warna-warni redup tersebut menerpa tubuhnya. Ia terdiam, dalam keheningan singkat, memandang matahari terbenam yang sinarnya tidak lagi menyilaukan. Matahari merah besar yang perlahan-lahan tergelincir di balik sejumlah pencakar langit, kemudian seolah tenggelam ke dalam lautan yang melatarbelakangi gedung-gedung tersebut.
Hanya sejenak, keindahan yang hanya berlangsung sesaat. Ini bukan pertama kalinya, tentu saja, Samuel memandangi matahari merah besar tersebut, namun sore ini, pemandangan itu membuatnya terpesona. Dia teringat pada orang-orang zaman purba yang berpikir bahwa matahari berputar mengelilingi bumi. Ide yang akan dianggap bodoh oleh manusia masa kini, oleh mereka yang bisa dengan mudah percaya dengan segala sesuatu yang tertulis dalam buku-buku pelajaran, tanpa tergerak sedikitpun untuk melakukan pembuktian empiris, untuk membuktikan apakah teori-teori tersebut sungguh benar adanya. Sesungguhnya, manusia-manusia purba itu tidak bodoh, mereka berdiri di atas bumi yang seolah diam, dan memandang matahari, yang seolah bergerak dari timur ke barat.  Mata mereka menunjukkan hal tersebut kepada mereka. Di masa ribuan tahun yang lalu, pada masa-masa matematika dan fisika baru saja dilahirkan, sungguh naïf, jika seorang manusia modern, yang telah melihat foto bumi dari bulan sejak kecil, berharap kesan-kesan yang diperoleh oleh para manusia purba itu dapat diolah menjadi gagasan yang benar.
Hingga hari inipun, tidak jarang kesan yang diterima oleh panca indra mereka yang modern, tidak diolah menjadi gagasan yang tepat oleh akal mereka yang beradab. Selanjutnya, gagasan yang salah itu mengendap dan mengerak sebagai prinsip yang tak tergoyahkan. Mengakar dalam benak tidak hanya satu atau dua, melainkan sejumlah besar manusia, menjadi tradisi, suatu budaya, budaya ketidaktepatan, kalau tidak boleh disebut kesalahan, yang akan lestari untuk selamanya…
Bagaimanakah bumi hari ini, Jika tidak ada orang-orang seperti Copernicus atau Galileo? Betapa Samuel mengagumi mereka, para pemikir revolusioner yang tidak membiarkan akal mereka lumpuh dan tumpul, terhanyut dalam keseragaman absolut yang diimani oleh zaman pertengahan yang ortodoks. Betapa mengaggumkannya orang-orang ini, beserta Renaissance, masa yang melahirkan mereka.
Kelahiran kembali budaya klasik yang membebaskan intelektual manusia, setelah masa kegelapan yang panjang dan otoriter, masa 1000 tahun yang seolah-olah tanpa akhir, hampir seperti ‘keabadian’. Samuel memandang berkas-berkas terakhir sinar matahari, senyumnya mengembang, bersukacita atas berkas-berkas pikiran yang muncul di kepalanya saat merenungi pemandangan tersebut.
“apa itu keabadian? Suatu keadaan terlepas dari waktu
“Bukankah yang kulakukan ini dapat disebut sesaat di keabadian? Aku memang tidak benar-benar terlepas dari waktu, namun kali, di sesaat yang singkat ini, waktu berhenti menghantuiku. Aku berdiri diam, memandangi matahari terbenam, sambil mengingat-ingat kemegahan masa lalu, dan bagaimana hal-hal  tersebut menginspirasi aku. Aku selalu ingin menjadi seperti Galileo, aku ingin mendobrak segala ketidakbenaran yang terjadi di sekelilingku, segala ketidakbenaran yang membelenggu kebebasanku, segala ketidakbenaran yang ada dalam diriku… hal-hal yang membuatku jadi lemah…
“Aku bisa memahami kenapa orang-orang purba itu memandang dunia secara geosentris, tapi hal itu salah. Dunia ini tidak geosentris, dan Galileo dengan segala kegigihannya berusaha melepaskan kacamata geosentris itu dari mata lingkungan ortodoksi di mana ia hidup. Hal itu ditebusnya dengan pengorbanan dan status kriminal, tapi ia tahu kebenaran, dia telah membuktikan secara empiris bahwa teori Copernicus itu benar, maka ia tidak takut membela kebenaran tersebut. Hari ini selurih dunia tahu, tanpa perlu repot-repot melakukan pembuktian empiris tersebut, bahwa bumi ini bulat, dan ia mengorbit matahari, bersama planet-planet lain. Aku selalu mengagumi Galileo Galilei, manusia Renaissance yang tangguh itu.
“Aku berharap aku bisa sekuat dia, terlahir kembali sebagai seorang manusia ideal yang terbebas dari kelemahan dan kepengecutan yang menjadi esensiku hari ini, esensi yang membungkam kemerdekaanku, dan membawaku pada level terendah dalam eksistensiku sebagai seorang manusia… ”

Matahari  telah terbenam, semburat ungu dan merah mewarnai langit. Indah sekali, namun sebentar lagi yang tersisa hanyalah langit gelap tanpa bintang, karena bintang-bintang telah habis ditelan cahaya jutaan lampu neon warna-warni yang tidak dikenal oleh manusia purba, ataupun manusia Renaisannce. Samuel minggalkan refleksi pudar tersebut, warna-warna tipis di atas lantai marmer putih gading yang semakin kelabu setelah diinjak puluhan ribu orang sejak 400 tahun yang lalu. Gedung sekolah ini dibangun oleh tangan-tangan manusia Renaisans.  
Samuel melewati rentetan jendela kuno yang familiar, menyusuri sayap utara gedung sekolah yang menghubungkan gedung utama dengan asramanya. Sesungguhnya hari ini, seperti hari-hari lainnya, adalah hari yang membosankan dan melelahkan. Jam-jam pelajaran yang berjalan lambat, pelajaran tambahan dan latihan intensif yang tiada habisnya untuk persiapan ujian akhir nasional, dilanjutkan dengan mengerjakan PR tentang hal yang itu-itu saja.
Perpustakaan seperti menjadi rumah kedua baginya, tidak buruk juga, di sanalah ia sungguh-sungguh mengenal Galileo yang hanya dibahas seklilas dalam salah satu bab di suatu tempat di mata pelajaran fisika. Sungguh, hal itu tidaklah buruk, Galileo kemudian mengenalkannya kepada tokoh-tokoh lain, Socrates, Plato, Aristoteles, Augustinus, Bruno, Byron, Wilde…dan sejumlah nama lagi dari mereka yang telah pergi dari dunia materil, namun meninggalkan ide-ide yang membekas abadi dalam sejarah. Samuel senang dapat berkenalan dengan mereka, mereka adalah teman-teman akrabnya.
Pemikiran macam ini bukanlah khas pemuda seumurannya, namun Samuel beranggapan bahwa ia memiliki jiwa tua yang terperangkap dalam tubuh 17 tahunnya. Jiwa tua yang memahami bahwa matematika dan fisika harus dipelajari bukan sekedar sebagai syarat untuk sekedar lulus dari SMA, namun karena hal itu sungguh-sungguh bermanfaat bagi kehidupan setelah SMA.  Seperti tulisan yang terukir pada lengkungan panji batu di atas gerbang yang menghubungkan koridor sekolah dengan koridor asrama: ‘Non Scholae Sed Vita Discimus' . Mungkin hanya dia yang berpikiran seperti itu, bahkan mungkin, para guru yang mengajar sekedar untuk uang tersebut, tidak pula berpikiran demikian. Tampaknya, jiwa guru-guru itu juga tidak ada yang setua jiwanya.
Samuel melewati lengkungan gerbang itu, di bawah tatapan dua orang malaikat yang merentangkan panji batu bertuliskan motto tersebut. Kelas-kelas memang membosankan,tapi di balik rumus-rumus yang hampir semuanya telah dia hapal di luar kepala itu, dia bertemu dengan teman-teman akrabnya, suatu reuni kaum intelektual yang menyenangkan. Dan tentu saja, dia akan terus bersenang-senang dengan mereka, selepas SMA, bahkan selepas perguruan tinggi.
3 orang anak SMP berlari di sepanjang koridor asrama, mereka tertawa sambil berkejar-kejaran, dengan keriangan masa muda yang khas. Keriangan yang telah lama hilang dari diri Samuel, entah sejak kapan. Tidakkah itu menyedihkan? Sejak kapan jiwanya berkembang sedemikian pesat? Seperti seekor keong yang sudah terlalu besar untuk cangkangnya yang kecil, namun kemudian tersangkut, terjerat, entah sampai kapan dalam keterbatasan, bersama teman-teman khayalan yang hanya tinggal berupa ide dan biografi. Seperti Giordano Bruno yang terlalu progresif untuk zamannya yang feodal dan kolot. Zaman yang menggeliat dalam ketidaknyamanan, yang menjadikannya setumpuk abu, untuk kemudian disebar, lalu mengendap bersama lumpur sungai Tiber bersama idealismenya.
Manusia ideal itu subjektif, tapi yang lebih penting, Samuel selalu tahu, manusia idealnya tidak pernah ada di dunia materi ini, dia hanya eksis di dunia ide. Ia masih begitu jauh dari gambaran manusia ideal tersebut…
“begitu jauhnya, mungkin hanya bisa dicapai jika aku bergerak dengan kecepatan cahaya”
Sesuatu yang hampir mustahil. Bahkan menurut Aristoteles, dunia ide itu tidak pernah ada. Senyumnya yang mengembang telah layu, keabadian yang sesaat telah berakhir. Selamat datang di realita. Samuel sendirian. Sendirian seperti biasanya. Ia tidak cukup berani untuk melahirkan substansi manusia ideal tersebut, dan membiarkannya meringkuk sebagai forma di sudut otaknya. Forma yang hanya bisa berpesta bersama hantu-hantu intelektual saat otaknya sibuk memikirkan pemecahan rumus-rumus dan angka. Dan tangaknya bergerak cepat di atas kertas ujian, menuliskan jawaban-jawaban teoritis yang dibisikkan hantu-hantu itu ke telinganya.
Samuel yang selalu sendirian terlalu takut untuk diarak ke tengah pasar bunga, untuk kemudian diikat pada sebatang tonggak dan dibakar sebagai bidah revolusioner. Karena itulah ia selalu sendirian. Ia tahu forma yang menari-nari di dalam kepalanya adalah suatu kebenaran, tapi siapa yang mau mendengarkan seorang anak muda berjiwa tua, selain hantu-hantu intelektual teman bermainnya?  
Samuel tidak selalu sendirian, kadang dia bersama orang-orang lain, murid-murid dan guru-guru. Orang-orang hidup, bukan teman-teman akrabnya yang tinggal eksis sebagai forma dalam buku-buku berdebu di perpustakaan. Tapi pada umumnya dia sendirian, dan dia lebih suka sendirian, bersama ide para filsuf dan ilmuwan yang memberi penghiburan kepada kehendaknya yang lemah. Samuel merasa lebih nyaman saat tidak ada teman sekelas yang meminta tolong kepadanya untuk menjelaskan rumus diferensial-integral, menyontek jawabannya, atau memaksanya mengerjakan soal-soal yang rumit tersebut bagi mereka. Dia lebih suka diam dan tidak diperhatikan, daripada harus menjadi murid teladan, kesayangan guru-guru, sang bintang kelas. Lagipula, dia tidak pernah berharap menjadi bintang kelas.
Dia menjadi bintang kelas hanya sebagai akibat cintanya terhadap ilmu pengetahuan, namun baginya sendiri, hal itu bukanlah atribut yang melekat bersama eksistensinya. Itu subjektif, orang-oranglah yang beranggapan demikian, bukan dirinya. Lagipula, apa baiknya menjadi bintang?
“bintang-bintang yang berukuran besar dan berusia panjang telah habis dimakan oleh cahaya-cahaya artifisial yang yang mungil, tidak tahan lama, tapi banyak dan selalu diproduksi”
Samuel memang murid pandai yang pantas diteladan secara intelektual, tidak seperti anak-anak manja dan bodoh itu. Namun, seperti telah dialami oleh rasul Paulus, seorang yang pandai belum tentu dapat berbicara dengan tegas, atau terlibat dalam percakapan-percakapan cerdas yang menyenangkan. Lagipula ‘kecerdasan’ dan ‘hal yang menyenangkan’ itu sifatnya subjektif. Hal-hal yang menurut teman-teman sekelasnya ‘cerdas dan menyenangkan’ adalah suatu kebodohan yang membosankan bagi Samuel. Karena itulah, dia lebih nyaman sendiri saja, bersama dirinya dan ide-ide dari masa lampau, hantu-hantu intelektual yang tidak dapat dimengerti oleh anak-anak muda sebayanya.
Dalam kesendiriannya, dia tidak perlu merasa terbeban akan keterbatasannya, atau dimanfaatkan orang lain karena kelebihannya. Ia dapat membebaskan formanya yang ideal bertingkah polah di  atas hamparan ladang akal budi yang tak terbatas.

Mereka yang mengambil keuntungan dari kepandaian Samuel itu, pada umumnya juga tidak sungkan untuk menertawakan kelemahannya. Setelah mereka mengeruk keuntungan yang sebesar-besarnya. Bahkan seringkali mereka tidak perlu menunggu sampai proses pemanfaatan itu selesai.  Mereka tidak merasa perlu melakukan itu di balik punggung Samuel, jika mereka bisa melakukan itu di depannya. Dan itulah yang terjadi, mereka tertawa terbahak-bahak, bercanda dan mengucapkan kata-kata yang tidak seharusnya mereka ucapkan,  di hadapan Samuel yang sedang mengerjakan PR fisika atas nama Marissa, dan  Isaac, dan Anarchia, dan Giovanni, dan sejumlah nama lainnya.
Samuel hampir tidak pernah mengatakan “Tidak!”. Dia mengangguk untuk hampir setiap hal yang ditawarkan, kalau tidak bisa dibilang ‘diinstruksikan’ kepadanya. Terlepas apakah hal itu akan berpengaruh buruk atau tidak baginya, atau lingkungan di sekitarnya. Menyetujui setiap setiap instruksi, saat ini adalah hal yang dirasanya paling aman.
“Tidakkah itu menyedihkan? Aku memiliki akal yang jernih, aku tahu mana yang benar dan mana yang salah, aku tahu hal-hal baik apa yang seharusnya kulakukan, dan hal-hal bodoh apa yang seharusnya kutinggalkan. Tidakkah Galileo akan memalingkan wajahnya daripadaku, yang terlalu takut untuk mengatakan ‘tidak’ pada saat aku harus mengatakan ‘tidak’?
Untuk alasan ‘keamanan’ dan ‘kesejahteraan’? aku tidak pernah sungguh-sungguh merasakan hal-hal tersebut, jika aku tidak sedang tenggelam di perpustakaan, berkenalan dan berpesta dengan hantu-hantu berwujud ide cemerlang, dari mereka yang telah meninggalkan dunia materi ini. Sahabat-sahabat yang tidak pernah dapat diajak berdiskusi. Sahabat-sahabat, yang menghakimiku saat pemikiranku telah kembali pada titik itu. Dan ke sanalah, pemikiranku selalu kembali.
“Aku memiliki forma yang idealis, namun pada saat bersamaan, mental seorang budak menjadi sisi lain mata uangku. Mental seekor gajah yang telah diikat pada tiang pancang tenda sirkus sejak masa kecilnya, sehingga sekalipun waktu telah lewat bertahun-tahun, setelah ia tumbuh menjadi seekor gajah besar yang kuat, ia akan terus beranggapan ia tak akan bisa lepas dari rantai yang mengikatnya di tiang pancang itu, karena saat masih kecil, ia telah berusaha lepas dan gagal.
“Tapi aku bukanlah gajah yang besar dan kuat. Budak-budak yang tertindas dan buruh-buruh malang mempunyai kameradnya untuk melawan para kapitalis dan tuan tanah yang mengeksploitasi mereka. Tapi siapakah yang kumiliki selain hantu-hantu cerdas yang tak berwujud itu?
“apa jadinya seorang budak yang memberontak sendirian? Bagaimana nasibnya setelah ia ditangkap dan dibawa ke ruang sidang para tuan tanah? Dibawah lecutan cambuk dan stempel besi membara?
“Pilihan apa yang kumiliki? Kesejahteraan apa yang dapat dimiliki oleh seorang budak, selain kebebasannya? Tapi bagaimana jika kebebasan itu adalah sesuatu yang tidak terjangkau? Tidakkah sikap yang paling bijaksana adalah bertahan, karena kesudahannya akan segera tiba? Masa SMA tinggal 4 bulan lagi
“Saat itulah, aku akan dilahirkan kembali, aku akan bertemu dengan orang-orang yang berpola pikir sama denganku, orang-orang yang sungguh-sungguh cerdas dan intelek, yang bisa kuajak berbicara tentang Voltaire dan Marx. Pada saat itu. aku akan melangkah maju, aku akan membebaskan forma yang selama ini terkungkung oleh kelemahanku hari ini. Waktunya tidak lama lagi. Perbudakan ini… eksploitasi ini, aku masih bisa menahannya. Bukankah tidak ada penantian yang tidak berakhir?”

Samuel telah berdiri di depan kamar asramanya. Dia tidak sendirian di kamar ini, tapi Nicholas, teman sekamarnya bukanlah temannya. Mereka jarang sekali, atau hampir tidak pernah berbicara satu sama lain.  Nicholas selalu masuk kamar di atas jam 11 malam, dan sudah 1 tahun terakhir ini, seringkali membangunkannya dengan menyetel musik ,nonton film porno, atau menelepon, semuanya dengan suara keras, sambil teler. Samuel telah terbiasa mendengar saura-suara keras itu, berpadu dengan suara tawa Nicholas yang menggelegar. Nicholas menertawakannya, dan ia terus berpura-pura tidur, hingga akhirnya ia sungguh-sungguh tertidur. Lelap dalam kesendirian yang nyaman ditengah kebisingan itu.
Suatu malam, dia membuka mata, dan tepat saat itulah cairan sperma Nicholas memancar ke seluruh wajahnya. Nicholas tidak bisa berhenti tertawa, wajahnya merah. Samuel menatap mata Nicholas. Kaget dan, tentu saja marah. Namun Nicholas sambil memasukkan penis ke galam celana dalamnya tersenyum dan berkata: “kamu keberatan?”
Samuel mengalihkan pandangannya, mengambil tissue dan menyeka wajah. “Aku harus ke kamar mandi…”. Samuel belum mencapai pintu, saat Nicholas merangkul bahunya dan berbisik: “katakan saja kalau kamu keberatan”
“aku…”
Nicholas mulai tertawa terbahak-bahak lagi. Ia mengambil selinting ganja dan menyorongkannya ke mulut Samuel. “hisaplah”
Samuel berusaha menolak, tapi rangkulan Nicholas di bahunya kencang sekali. ‘Tidak ada hal yang tidak bisa dilakukan oleh orang yang sedang teler’, pikirnya. Maka Samuel memejamkan matanya dan menghisap ganja tersebut.
“hisaplah yang dalam, hisaplah kuat-kuat… nah, kamu tidak keberatan kan?”

‘sebaiknya aku tidur dulu… hari ini meletihkan sekali’ pikir Samuel sambil membuka pintu kamarnya.
Pintu kamar itu terbuka, terdengar suara menggelegar yang memekakkan telinga, kemudian seekor serigala menerkamnya.

Samuel menjerit, matanya terbuka, ia terbangun dari mimpi buruk.
Sudah berapa lama ia tertidur? Samuel melihat jam, ini sudah jam 10 malam. Ia merasakan rasa nyeri di wajahnya. Samuel berdiri tertatih-tatih, berjalan menuju cermin. Wajahnya tampak sangat buruk. Lebam di matanya, ujung bibirnya sobek, 2 giginya tanggal. Kepalanya terasa pening, tadi ia tidak sedang tertidur, ia pingsan. Samuel memandang ke sekelilingnya, ruangan yang berantakan pita-pita dan confetti berserakan di lantai. Seonggok cupcake yang hampir habis, tampak menjijikkan dengan lelehan isian berceceran di atas meja. Sepasang lilin berbentuk angka ‘1’ dan ‘8’ tertancap di atasnya.
Hari ini adalah hari ulang tahun Samuel, tentu saja, hari ini dia berusia 18 tahun, dan seketika itu pula ia ingat semuanya, begitu jernih, seperti film yang diputar ulang dalam kepalanya. hal-hal yang dialaminya sejak matahari terbenam, ketika membuka pintu kamar tersebut.
Suara yang menggelegar.
Serigala yang menerkamnya, tidak hanya seekor, tapi banyak.
Tidak hanya serigala, tapi ada juga macan dan beruang, kelinci, dan lain-lainnya.
Pesta ulang tahun.
Pesta ulang tahunnya setelah bertahun-tahun.

Samuel memandang wajahnya yang buruk di dalam cermin. Matanya merah, bukan karena ganja yang dihisapnya, ataupun air mata yang dicucurkannya sepanjang sore itu. Mungkin memang karena itu, namun ia tahu, matanya merah karena hal lain. Hal yang tak termaafkan. Hal yang melampaui toleransinya atas semua yang telah terjadi selama 3 tahun ini.
Hantu-hantu di kepalanya meniupkan sangkakala dan menabuh gendering.
“Dendam neraka membara di hatiku”
Mater et Magistra by JonathanChanutomo
Mater et Magistra
Ibu Pertiwi, A personification of Indonesia, as a mother (the provider) and teacher (giver of free learning) to her poor people. entry for Mandiri Art Award 2015
Loading...
Extreme Humility by JonathanChanutomo
Extreme Humility
My second Byzantine iconography, requested by an Easstern Catholic Priest
He wish i can finished it before Lent, but because of my hectic scheadule, i just able to complete it today, on Maundy Thursday, several hours before Good Friday.
In memory of the suffering of Our Lord and God, Jesus Christ

John 3:16 - For God so loved the world that he gave his one and only Son, that whoever believes in him shall not perish but have eternal life
Loading...
For One Last Time by JonathanChanutomo
For One Last Time
The final rage of Samson
i listen a lot to Regina Spektor's Samson while execute this
Loading...
1. Detailed head and shoulder
$35 (+$30 for each extra character)

Marissa and Aurelia by JonathanChanutomo Lydia in Red by JonathanChanutomo The Brute by JonathanChanutomo Dr. Ian and Officer Dakota by JonathanChanutomo Le Parfum et des Tentacules by JonathanChanutomoYellow Submarin by JonathanChanutomo

2. Detailed Half Body without or with simple background
$80 (+$60 for each extra character)

<da:thumb id="438763278"/>  SS. Acceptance by JonathanChanutomo Marissa and her Brothers by JonathanChanutomo Happy New Year 2013! by JonathanChanutomo Ryan and Siamesse Cat by JonathanChanutomoThe Cosplayers by JonathanChanutomo The Nativity by JonathanChanutomo

3. Detailed Half Body with more complex background or frame
$125 (+60 for each extra character)

La Gitana by JonathanChanutomo Dewi Srikandi by JonathanChanutomo The Maiden and the Unicorn by JonathanChanutomoAfrican Supermodels by JonathanChanutomo The Little Red Riding Hood and a She Wolf by JonathanChanutomoGreed and Glutton by JonathanChanutomo

4.Detailed full body without or with simple background
$100 (+75 for each extra character)

Salt Water Flying Fish by JonathanChanutomoHomo Ergastus by JonathanChanutomo The Rococo Cheescake by JonathanChanutomoI'm Dreaming of a WILD Christmas by JonathanChanutomo Venus in Furs by JonathanChanutomo First Star by JonathanChanutomo Santa Baby by JonathanChanutomo

5. More Complex Painting with detailed background or/with frame
Price by Request

Wrath of Kraken by JonathanChanutomo Kuntilanak and Sundel Bolong by JonathanChanutomo Veritas by JonathanChanutomo  Tragoedia Gloriosa by JonathanChanutomo  Gorgon by JonathanChanutomo  Pink Seashore Hospital by JonathanChanutomo Her Majesty the Queen by JonathanChanutomo  Omnia Vanitas by JonathanChanutomo

6. Tattoo Design
Price by Request

Psalmo XXII by JonathanChanutomo Tattoo Designs by Jonathan Chanutomo by JonathanChanutomo


7. Caricature - (Photo+Painting)
$25 for each character

CARICATURE COMPILATION 2 by JonathanChanutomo CARICATURE COMPILATION 1 by JonathanChanutomo Caricature Compilation 3 by JonathanChanutomo

8. Chbi
$35 for each character

National Holyday of Kuwait by JonathanChanutomochibi 1 by JonathanChanutomo

_______________________________________

So that's the general guidelines, if you have any extra details we can talk it through notes later. The price would adjust accordingly.

Commission order details :
1. Firstly contact me through notes or email <jehonathan89@yahoo.co.id>
2. Payment only through paypal, and here my paypal address <jehonathan89@yahoo.co.id>
3. - you can pay me the whole price in front
    - You can pay half after i send you the rough sketch and the other half after you've seen the preview of the final artwork.
4. The final output would be JPEG res 300dpi
5. Revisions, tweaks, or changes is acceptable along the progress ( i'll update you with the progress through email). But you got only 1 chance after the finished piece.

some notes:
- nudity is acceptable ( just talk to me about it ;) (Wink) )
- No refunds or buyer's remorse!
- please be specific, providing any references also would be nice. So i can understand what your needs
- any more details ? just ask me ;) (Wink). I won't bite :D (Big Grin)

Thank you :) (Smile) !

deviantID

JonathanChanutomo
jonathan chanutomo
Artist | Professional | Digital Art
Indonesia
Hello, my name is Jonathan Chanutomo, I work as an Illustrator, using digital techniques. My field is Fantasy, Surrealism, and erotic arts. if you interested with my art, and want a commission, just send me a private note :D
Interests

Critiques

Heisenberg by MisterLopes

it's a great portrait anyway, but i think it gonna be better if you done the chemical things with pencil also, so you will have consist...

AdCast - Ads from the Community

Journal History

Comments


Add a Comment:
 
:iconpajunen:
Pajunen Featured By Owner Mar 8, 2015  Hobbyist Photographer
Thanks for the :+fav:
Reply
:iconjonathanchanutomo:
JonathanChanutomo Featured By Owner Mar 8, 2015  Professional Digital Artist
welcome
Reply
:iconleothefox:
leothefox Featured By Owner Mar 7, 2015   Artist
:hug: Thanks for faving

Concorde Affaire '79 by leothefox  
Reply
:iconjonathanchanutomo:
JonathanChanutomo Featured By Owner Mar 8, 2015  Professional Digital Artist
yey
Reply
:iconsupersamzero:
SuperSamZero Featured By Owner Feb 10, 2015  Hobbyist Traditional Artist
NEEDA SHARE HYPE WITH FRIEND NOWWWWWW
>. <
m.youtube.com/watch?v=15ESazPd…
Reply
:iconsupersamzero:
SuperSamZero Featured By Owner Feb 8, 2015  Hobbyist Traditional Artist
Hiii bud.
U gotta Skype? I need usernames lol
Reply
:iconeryono:
Eryono Featured By Owner Jan 7, 2015  Hobbyist Digital Artist
keren banget gmbarnya, La la la la 
Reply
:iconjonathanchanutomo:
JonathanChanutomo Featured By Owner Jan 7, 2015  Professional Digital Artist
makasih brooo
Reply
:iconsupersamzero:
SuperSamZero Featured By Owner Dec 24, 2014  Hobbyist Traditional Artist
ZOMG DID U SEE THAT KORRA FINALE?
Eeeee shippings are made canon!!! <3
Reply
:iconjonathanchanutomo:
JonathanChanutomo Featured By Owner Dec 24, 2014  Professional Digital Artist
whats dat?
Reply
Add a Comment: